BERSIKAP KRITIS TERHADAP IDEOLOGI DAN GAYA HIDUP
Dalam hidup modern dewasa ini, kita
tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau
ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. Terlebih seperti
yang dialami oleh banyak kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai
dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga
perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita. Tingkatan
pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan
menentukan pilihan. Pada pelajaran ini, kita akan mengamati berbagai pengaruh
dari suatu ideologi, aliran/paham, dan tren-tren yang berkembang saat ini.
Harapannya adalah bahwa kita harus bersikap kritis terhadap:
1. Tren-tren yang sedang berkembang
pesat pada saat ini, antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme,
pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren itupun dapat
mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.
2. ideologi, paham-paham, dan aliran
yang beranekaragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat
melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering
dijadikan sasaran dari penyebaran dan perluasan ideologi atau paham-paham dan
aliran.
Sewaktu hidupNya, Yesus bertemu
dengan berbagai orang yang menganut macam-macam ideologi, paham dan aliran,
misalnya kaum Farisi, kaum Saduki, kaum Esseni, dan kaum Zelot. Dalam
menghadapi berbagai ideologi, paham, dan aliran tersebut, Yesus sudah memiliki
sikap kritis. Yesus tetap pada pilihan-Nya (opsi-Nya), yaitu Kerajaan Allah.
Yesus juga pernah dihadapkan kepada berbagai tawaran yang menggiurkan, seperti
jaminan sosial ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan, tetapi Yesus tetap
menolaknya (Lihat Matius 4: 1-11). Pilihan (opsi) Yesus tetap pada mewartakan
dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah.
Pada zaman yang penuh tawaran
ideologi, paham-paham, dan macam-macam godaan untuk berbagai jaminan sosial
ekonomi dan politik serta kesenangan, kaum muda hendaknya membekali diri dengan
sikap kritis, sehingga dapat menentukan pilihan dengan benar.
Tentang Gaya Hidup:
·
Dalam hidup
modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan,
baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat
ini.
·
Gaya hidup
adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan atau diperlihatkan dalam aktivitas,
minat, dan pendapatnya yang berkaitan dengan citra dan status sosialnya.
·
Menurut
KBBI, gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di
dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan
pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan
statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life
style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik,
kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.
·
Gaya hidup
bisa ditentukan oleh apa saja, mulai dari agama, profesi, zaman, teknologi,
hobi, umur, jenis kelamin, idola, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena
adanya kesamaan sejumlah manusia dalam menjalani hidupnya pada suatu jalan
tertentu.
·
Bagi kaum
muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai
pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa
dilepaskan pengaruhnya bagi kita.Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada
kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan.
·
Kita harus
bersikap kritis terhadap tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini.
Tren-tren yang sangat pesat berkembang antara lain: materialisme, konsumerisme,
individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren pun
dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.
Tentang Ideologi
1) Kita harus bersikap kritis
terhadap ideologi, paham-paham, dan aliran yang beraneka ragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan
aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum
muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran slogan perluasan ideologi atau
paham-paham dan aliran.
Nasionalisme
Nasionalisme dapat disebut semacam
etno-sentrisme atau pandangan yang berpusat pada bangsa sendiri. Gejala seperti
semangat nasionalisme, patriotisme, dsb. terdapat pada semua bangsa untuk menciptakan
rasa setia kawan dari suatu kelompok yang senasib.
Nasionalisme negatif atau nasionalisme sempit ialah
nasionalisme yang mengagung-agungkan bangsa sendiri dan meremehkan/menghina
bangsa lain. (Right or wrong my country).
Nasionalisme positif adalah nasionalisme yang
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sekaligus menghormati
kemerdekaan dan kedaulatan bangsa lain!
Marxisme
Sejarah bangsa kita pernah
berkenalan dengan marxisme. Marxisme ialah suatu kumpulan ajaran yang menjadi
dasar sosialisme dan komunisme. Tujuan utama dari marxisme ialah menghapuskan
kapitalisme yang dianggap menyengsarakan dan menjajah kaum proletar, yaitu kaum
buruh/rakyat kecil.
Marxisme hanya percaya pada materi,
tidak percaya pada dunia adikodrati, termasuk tidak percaya kepada Tuhan.
Manusia merupakan satu unsur materi, suatu unsur yang sangat terbatas dalam
proses perubahan keseluruhan umat manusia dan semesta alam. Maka, manusia dapat
digunakan untuk tujuan marxisme itu. Jika manusia itu menjadi penghalang, maka
ia dapat dilenyapkan.
Yang kiranya positif dari ideologi
marxisme ini ialah perjuangan dan opsinya kepada kaum buruh/proletar. Hanya
sayangnya, ideologi marxisme ini menghalalkan segala cara.
Komunisme
Komunisme adalah anak dari marxisme.
Komunisme mencita- citakan suatu sistem masyarakat di mana sarana-sarana
produksi dilakukan berdasarkan asas bahwa setiap anggota masyarakat dapat
memperoleh hasil sesuai dengan kebutuhan. Cita-cita komunisme ini praktis
diperjuangkan dan dimonopoli oleh partai komunis.
Teokrasi
Teokrasi merupakan sebuah paham yang
menghendaki agama menguasai masyarakat politis. Dalam hal ini, pemerintahan
dianggap melakukan kehendak ilahi seperti diwahyukan menurut kepercayaan agama
tertentu. Negara adalah negara agama. Segala bentuk teokrasi bersifat
statis-konservatif, karena hukum agama dipandang tetap.
Neo-Liberalisme
Liberalisme adalah suatu paham dan
gerakan yang memperjuangkan kebebasan dari penindasan apapun. Namun, kebebasan
itu dapat memberi peluang bagi yang kuat untuk menekan yang lemah dan yang kaya
memeras yang miskin. Oleh sebab itu, liberalisme di Indonesia sering
berkonotasi negatif.
Neo-Liberalisme ialah paham yang
berkembang dewasa ini dalam hubungannya dengan globalisasi dan pasar bebas,
yang akan dikuasai oleh mereka yang kuat secara ekonomis dan politis.
Neo-Liberalisme mempunyai konotasi negatif untuk negara-negara yang sedang
berkembang.
Liberalisme memang memiliki segi
positif dan negatif.
·
Positif
karena liberalisme memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia.
·
Negatif karena
liberalisme, terutama neo-liberalisme dapat menguasai pasar karena terjadi
persaingan yang tidak seimbang. Neo-Liberalisme melahirkan sikap-sikap asosial.
Perlu dicatat bahwa kebanyakan
ideologi cenderung untuk bersikap fanatik!
2) Ideologi dapat diartikan juga
sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Contoh: banyak remaja di kota
besar yang tidak lagi menganggap “kesucian” badan (keperawanan dan
keperjakaan), sebagai sesuatu yang penting dipertahankan sampai jenjang
perkawinan. Atau, memandang ibadat bersama sebagai buang-buang waktu, dan
sebagainya.
Tren Yang Berkembang:
Pada saat ini muncul banyak tren dan
isu yang semakin lama semakin kuat, yang perlu kita sikapi dengan kritis.
Tren-tren dan isu-isu yang aktual dan relevan untuk ditanggapi secara kritis
adalah sebagai berikut.
Budaya Materialistik dan Hedonistik
Budaya materialistik dan hedonistik
adalah hidup berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang
dia miliki (rumah, mobil, dan sebagainya), bukan karakter. Pengorbanan,
menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk
melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya
materialistik dan hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik itu antara
lain melahirkan sikap konsumerisme.
Konsumerisme adalah sikap orang yang
terdorong untuk terus-menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena
konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dianggap akan
diperoleh melalui konsumsi tinggi itu.
Individualisme
Individualisme umumnya muncul akibat
dari perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sedang berlangsung.
Sikap individualistik ini umumnya muncul pada masyarakat yang hidup di kota,
terutama pada masyarakat kelas menengah ke atas. Sikap individualistik ini
umumnya jarang terjadi pada kaum petani, nelayan, tukang, dan pedagang
tradisional yang pekerjaannya tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga.
Gaya hidup modern memisahkan dengan
tajam antara dua bidang itu. Hidup dalam keluarga dan pekerjaan semakin tidak
ada sangkut-pautnya satu sama yang lain. Pagi hari ayah secara fisik dan
emosional meninggalkan rumah dan keluarganya, selama delapan sampai sebelas
jam, menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor. Apabila pulang malam hari
jika tidak membawa pekerjaan kantor, barulah tersedia waktunya bagi
keluarganya. Dengan demikian, budaya kampung, ketetanggaan dan kekeluargaan
dalam arti luas berubah. Orang menjadi individualistik dan privatistik.
Pluralisme
Pluralisme berarti bahwa orang dari
berbagai suku, daerah, agama, keyakinan religius, dan politik bercampur-baur di
kampung-kampung, di tempat kerja, kendaraan umum, di rumah sakit, dan di mana
pun juga; tidak ada masyarakat yang tertutup dan tradisional murni.
Dengan kata lain, kontrol sosial
terhadap pelaksanaan keagamaan dan hidup bermasyarakat rakyat makin berkurang.
Lingkungan sosial semakin tidak
menentukan lagi dalam hal agama, keyakinan, politik, atau kepercayaan. Orang
menentukan sendiri keterlibatan dalam bidang-bidang tersebut. Dalam arti ini,
agama menjadi urusan pribadi seseorang, bukan urusan masyarakat atau
pemerintah. Orang tidak harus mengetahui dan tidak mempedulikan kepercayaan
tetangganya.
Fundamentalisme
Gerakan fundamentalisme sekarang
banyak muncul, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju.
Gerakan fundamentalisme ini umumnya muncul karena adanya suatu tekanan atau
ketidakpuasan terhadap kelompok tertentu atau negara tertentu. Gerakan-gerakan
fundamentalisme ini umumnya berkedok agama atau kepentingan politik tertentu,
seperti yang kita alami di negeri kita saat ini. Selain fundamentalisme agama
dan politik, ada juga fundamentalisme yang bersifat non-agama, misalnya
sukuisme, nasionalisme, dan sebagainya.
Isu Gender
Pembebasan kaum perempuan akan
menjadi pembebasan umat manusia seluruhnya menuju masyarakat baru, dengan
paradigma sosial baru. Dalam proses itu kita pun harus menuju pola hubungan
yang sederajat sebagai mitra, dengan sikap solider-partisipatif, polisentrik
dan karena itu membentuk jaringan dengan banyak simpul yang saling berhubungan.
Gerakan kaum perempuan akan menjadi
gerakan pembebasan yang kuat dan terasa dampaknya dalam abad ke-21 ini. Gerakan
ini akan merombak paradigma sosial lama menuju masyarakat baru yang lebih
egalitarian.
Isu Demokrasi, Otonomi, dan Hak
Asasi
Alam demokratis semakin dibutuhkan
pada masa sekarang, bukan saja sebagai sikap politik, tetapi sebagai sikap
budaya. Secara global, demokrasi menjadi penting bukan saja karena sosialisme
telah runtuh, melainkan karena liberalisme politik seakan-akan menjadi
satu-satunya paham yang sekarang berlaku. Sikap demokratis dibutuhkan terutama
karena munculnya kekuatan- kekuatan baru yang dibawa oleh globalisasi yang
telah menimbulkan berbagai perubahan yang akan menjadi produktif jika
ditanggapi secara demokratis. Isu demokrasi, otonomi, dan hak asasi akan
semakin kuat dalam millennium ini.
Isu Lingkungan Hidup
Pada tahun-tahun terakhir ini, isu
lingkungan hidup menjadi sangat sentral di planet ini. Lingkungan hidup sangat
erat hubungannya dengan mutu dan kelangsungan hidup manusia. Sikap acuh tak
acuh terhadap lingkungan hidup dianggap sebagai perbuatan yang konyol dan bunuh
diri.
Budaya modern yang individualistik,
rasionalistik, dan eksploitatif mulai sedikit digeser oleh budaya pasca modern
yang lebih sosial dan akrab dengan alam/lingkungan hidup.
BERSIKAP KRITIS DAN BERTANGGUNGJAWAB TERHADAP PENGARUH MEDIA MASSA
Pandangan Gereja tentang media massa
berdasarkan Dekrit Konsili Vatikan II tentang Komunikasi sosial (Intermerifica,
Art. 9 & 10).
Hendaknya para penerima, terutama dikalangan kaum muda berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi sosial mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Hendaklah itu mereka percakapkan dengan para pendidik dan para ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama. Sedangkan para orang-tua hendaknya menyadari sebagai kewajiban mereka: menjaga dengan sungguh sungguh, supaya tayangan-tayangan, terbitan- terbitan tercetak dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan iman serta tata susila, jangan sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anak-anak menjumpainya di luar lingkup keluarga.
·
Media berasal
dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium secara harafiah berarti
perantara atau pengantar dalam hal ini untuk menyalurkan pesan atau informasi.
·
Kita
sekarang sedang mengalami revolusi informasi. Karena berbagai kemajuan
teknologi media, kita dibanjiri oleh arus informasi yang melimpah ruah dan
tidak henti, hampir tanpa saringan. Informasi- informasi itu dapat berupa
informasi yang baik dan membangun, tetapi juga dapat berupa informasi yang
buruk dan merusak.
·
Kita harus
memiliki sikap kritis terhadap semua informasi yang kita terima. Sikap kritis
berarti dapat memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah; mana yang baik
dan mana yang buruk; mana yang positif dan mana yang negatif. Jadi, kita harus
bersikap kritis terhadap pengaruh positif dan negatif dari media yang
menyuguhkan berbagai informasi.
·
Pengaruh
positif dari media dapat terjadi karena:
1) Teknologi media mendekatkan
manusia satu sama lain. Ia dapat mendekatkan pikiran dan relasi kita. Pikiran
dan relasi kita menjadi lebih terbuka kepada orang lain, kepada bangsa lain,
budaya lain, dan sebagainya.
2) Teknologi media dapat membuat kita terlibat pada peristiwa di belahan bumi
yang lain. Kita terlibat pada gempa bumi di Aljazair, pada SARS di Cina, pada
Piala Dunia, dan sebagainya.
3) Teknologi media menyajikan mutu dan pola pemberitaan yang semakin menarik.
Pemberitaan lewat satelit dan jaringan internet yang makin semarak.
4) Teknologi media dapat menyajikan gambar dan suara yang lebih canggih,
seperti musik stereo, gambar tiga dimensi, dan sebagainya.
·
Pengaruh
dari pemilik atau sponsor media
·
Pengaruh
yang tidak disadari, yakni:
1) Sadar tidak sadar, media sudah
membentuk budaya baru. Kaum muda adalah massa yang terlibat penuh dalam budaya
baru ini.
2) Sadar tidak sadar, media telah mengubah cara pikir kita tentang hidup,
tentang kebudayaan, dan sebagainya. Jendela dunia terbuka lebar bagi kita.
·
Pengaruh
Negatif dari Media
Pengaruh negatif yang disebabkan
dari teknologi media sendiri, antara lain:
1) Media telah membangun kerajaan
dan kekuasaan yang sangat kuat. Siapa yang memiliki media dia yang kuat dan
berkuasa. Media Dunia Utara menguasai Dunia Selatan. Kota menguasai desa. Pihak
yang kuat dan kaya menguasai yang lemah dan miskin.
2) Media menciptakan budaya baru yang gemerlap, budaya asli dan lokal
perlahan-lahan tersingkir.
Pengaruh negatif yang disebabkan
oleh pemilik dan sponsor media, yakni:
1) Media adalah bisnis. Supaya
bisnis dapat laku, maka digalakkan semangat materialisme, konsumerisme dan
hedonisme.
2) Lewat media dapat dibangun persepsi yang salah tentang kesejahteraan.
Kesejahteraan berarti memiliki materi sebanyak- banyaknya. Manusia tidak lagi
dinilai dari karakter dan dedikasi, tetapi dari apa yang dia miliki (rumah,
mobil, uang, dan sebagainya.) seperti yang dipromosikan pada iklan-iklan di
media.
3) Lewat media dapat diciptakan stereotip tentang tokoh kecantikan, mode, dan
sebagainya. yang akan ditiru oleh khalayak ramai, misalnya mode rambut, mode
pakaian, dan sebagainya. yang begitu cepat ditiru.
4) Lewat media dapat diciptakan sensasi tantangan seks, kekerasan, dan horor
yang mungkin sangat disenangi oleh penonton.
5) Pemilik, penguasa, dan sponsor media dapat melakukan berbagai rekayasa dan
trik demi kepentingan bisnis dan politiknya.
Pengaruh negatif yang tidak
disengaja
1) Jadwal hidup dan kerja kita
menjadi tidak teratur. Banyak waktu tersedot untuk menonton atau mendengar
siaran media. Komunikasi antarpribadi dalam keluarga berkurang.
2) Kecanduan dan keterlibatan pada kekerasan dan seks bebas sering ada
hubungannya dengan siaran TV atau chatting di internet atau HP (SMS).
3) Arus urbanisasi sering disebabkan oleh tayangan yang glamour tentang
kehidupan kota
·
Oleh karena
itu, kita harus tetap kritis terhadap media dan pandai-pandai menggunakan media
untuk kepentingan kita dan masyarakat/umat.
SUARA HATI
Hati nurani sendiri dapat diartikan
secara luas dan secara sempit.
Arti luas: Dalam arti luas hati nurani berarti kesadaran moral
yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsyafan akan
adanya kewajiban.
Suara hati adalah suara Allah, maka
melawan suara hati berarti melawan Allah. Agar kita setia pada kehendak
Allah kita perlu bersatu dengan Roh Kudus dan mengandalkan kekuatannya.
Kerja suara hati dapat ditinjau dari
berbagai segi:
Segi waktu
1) Hati nurani dapat berperanan sebelum suatu tindakan dibuat.
Biasanya, hati nurani akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang
kalau perbuatan itu buruk.
2) Hati nurani dapat berperan pada saat suatu tindakan dilakukan.
Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan
itu buruk atau jahat.
3) Hati nurani dapat berperan sesudah suatu tindakan dibuat.
Hati nurani akan “memuji” jika perbuatan itu baik dan hati nurani
akan membuat kita gelisah atau menyesal jika perbuatan itu buruk
atau jahat.
Segi benar-tidaknya
1) Hati nurani benar, jika kata hati kita cocok dengan norma objektif.
2) Hati nurani keliru, jika kata hati kita tidak cocok dengan norma objektif
Segi pasti-tidaknya
1) Hati nurani yang pasti, artinya, secara moral dapat dipastikan
bahwa hati nurani tidak keliru.
2) Hati nurani yang bimbang, artinya, masih ada keraguan.
Penyebab tumpulnya suara hati antara
lain:
1) Orang yang bersangkutan tidak
biasa menghiraukan hati nuraninya.
2) Orang yang selalu bersifat ragu-ragu atau bingung.
3) Pandangan masyarakat yang keliru. Misalnya: riba dianggap biasa!
4) Pengaruh pendidikan dalam lingkungan keluarga atau lingkungan lainnya.
5) Pengaruh propaganda, mass media dan arus massa.
Cara kerja suara hati, antara lain:
·
Sebelum
bertindak, ia berfungsi sebagai petunjuk (indeks), yang mengingatkan
pengetahuan kita bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Sesungguhnya kesadaran
moral semacam ini sudah dimiliki setiap orang dewasa.
·
Pada
saat-saat menjelang bertindak, ia bertindak sebagai hakim (iudeks), yang
menyuruh kita melakukan yang baik dan melarang/menghindari yang jahat. Selama
perbuatan itu belum selesai, suara hati akan bekerja terus antara menyuruh
melakukan yang baik dan melarang melakukan yang jahat.
·
Sesudah
tindakan selesai dilakukan, ia berfungsi memberikan vonis (vindeks), yang
akan menyatakan apakah perbuatan kita itu tepat atau tidak tepat. Bila yang
kita lakukan itu benar, ia akan memberikan pujian sehingga kita merasakan
ketenangan, tetapi bila yang kita lakukan itu yang jahat dan salah maka ia akan
memberikan hukuman, yang membuat kita merasa bersalah dan tidak tenang, merasa
dikejar-kejar kesalahan, dan sebagainya.
Suara hati dapat dibina dengan cara:
1. Mengikuti suara hati dalam segala hal
Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani akan semakin terang dan berwibawa.
Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat dan kuat. Dipercayai orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan Allah
Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah.” (Matius 5: 8).2. Mencari keterangan pada sumber yang baik
Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah.” (Matius 5: 8).2. Mencari keterangan pada sumber yang baik
2. Dengan membaca: Kitab Suci, Dokumen-Dokumen Gereja, dan buku-buku lain yang bermutu.
3. Dengan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan/pengalaman dan dapat dipercaya
4. Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret, dan sebagainya.
5. Koreksi diri atau introspeksi
·
Koreksi atas
diri sangat penting untuk dapat selalu mengarahkan hidup kita.3. Menjaga
kemurnian hati
·
Menjaga
kemurnian hati terwujud dengan melepaskan emosi dan nafsu, serta tanpa
pamrih, yang nampak dalam tiga hal: a)Maksud yang lurus (recta intentio): ia konsisten dengan apa yang
direncanakan, tanpa dibelokkan ke kiri atau ke kanan.
b) Pengaturan emosi (ordinario affectum): ia tidak menentukan keputusan
secara emosional.
c) Pemurnian hati (purification cordis): tidak ada kepentingan pribadi
atau maksud-maksud tertentu di balik keputusan yang diambil.
·
Hal ini
dapat dilatih dengan penelitian batin, seperti merefleksikan rangkaian
kata dan tindakan sepanjang hari itu, berdoa sebelum melakukan aktivitas, dan
lain-lain.