BAB 3
PERAN KELUARGA,
SEKOLAH, GEREJA DAN MASYARAKAT BAGI PERKEMBANGANKU
Setiap pribadi mempunyai peran yang unik demi tujuan
hidup bersama misalnya
- Dalam keluarga: Kita berperan sebagai anak Ayah dan ibu sebagai orang tua
- Di sekolah: ada peran guru, murid, pegawai
tata usaha dll
Satiap orang orang berlatar belakang sosial. Manusia
merupakan produk masyarakat yang menyejarah. Konteks sosial ini ikut membentuk jalan pikiran dan
cita-cita serta prestasi seseorang.
Untuk mendukung perkembangan kepribadiaan kita dalam
berelasi, kita membutuhkan situasi yang:
- Harmoni
adalah: keselarasan yang membangkitkan tantangan bagi seseorang untuk
menemukan diri sendiri secara unik dan berkreasi. Harmoni memberi ruang
gerak bagi kebebasan.
- Damai
adalah: situasi yang membuat seseorang menemukan tempat yang enak atau
nyaman untuk memperluas cakrawala pandangan hidupnya.
- Indah adalah : merupakan kesatuan organik yang dibentuk oleh setiap orang sebagai anggota komunitas atau kelompok dengan saling memperkaya dan saling mendukung demi perkembangan pribadi dan kehidupan brsama
Setiap orang membutuhkan orang lain untuk dapat
memperkembangkan dirinya, bahkan orang tidak hanya membutuhkan orang lain saja,
tetapi ia juga dubutuhkan oleh orang lain untuk ikut mengembangkan diri mereka.
- Orang tua
- Saudara
kandung
- Teman
- Guru
- Tetangga
- Famili
jauh
- Pedagang dll
Ada 4 (empat) lingkup hidup tempat manusia bertumbuh dan
berkembang yakni:
- Keluarga
- Jemaat (Gereja)
- Sekolah
- Masyarakat
Yang masing-masing lingkup ini memberi peran dan pengaruh secara khas.
A. PERAN KELUARGA BAGI PERKEMBANGANKU
Keluarga merupakan
lingkungan pertama dan utama yang menjadi tempat seseorang tumbuh dan
berkembang. Semua anggota keluarga pasti akan mempengaruhi dan membentuk diri
kita menjadi seperti yang sekarang ini. Pengaruh antara anggota keluarga yang
satu dan anggota keluarga yang lain sangat ditentukan oleh peran masing-masing,
misalnya:
· Orang tua, mempunyai peran yang
paling besar seperti: menari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup keluarga,
mendidik dan mendampingi anak-anak menuju kedewasaan, memberikan contoh dan
teladan yang baik, mencukupi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dll
· Sebagai anak, kita dapat
memperlihatkan peran denagn berbagai macam bentuk seperti: membantu menjaga
kebersihan rumah, mengurus pakaian sendiri, membantu meringankan pekerjaan
orang tua dll
· Semua anggota keluarga, juga
mempunyai peran yang sangat penting yaitu: mencintai dan mengasihi semua
anggota keluarga, karena melalui peran mereka masing-masing kita mendapatkan
banyak yang kita butuhkan untuk hidup seperti: kasih saying, pengetahuan,
ketarampilan, materi, dll
Aku dan keluarga adalah satu kesatuan dalam sejarah hidupku. Keluarga adalah unit dari masyarakat, yang merupakan kesatuan individu-individu dalam ikatan cinta kasih.
Keluarga menjadi tempat pembentukan manusia, atau
lebih tepatnya sebagai tempat menanusiakan manusia artinya: Proses tercapainya
kepribadian seorang manusia justru mulai dari keluarga.
Dalam lingkungan keluarga, semua anggota dari kanak-kanak hingga kakek-nenek berkembang saling berkembang saling membantu untuk memperkembangkan kepribadian masing-masing dalam kontak erat satu sama lain.
Kebahagiaan adalah tujuan hidup berkeluarga. Kebahagiaan ini hanya dapat tercapai apabila dalam keluarga ada suasana:
- Saling mengerti antar individu, karena setiap individu (ayah, ibu dan anak) mempunyai keunikan masing-masng,
- Rendah hati yakni, mau mengakui serta memahami keadaan sesuai kenyataannya
- Saling menghormati dan setia satu sama lain (Efesus 6: 1-9)
- Saling terbuka
Suasana ini hanya dapat
terjadi apabila dijadikan oleh masing-masing anggota keluarga.
Ini berarti setiap individu
ikut ambil bagian daalm membangun suasana tersebut, Inilah yang disebut “solidaritas
keluarga”
Dalam membangun proses
solidaritas keluarga, kejujuran mempunyai peranan penting yaitu :
- Jujur terhadap diri sendiri
- Mengakui kekurangan dan kelemahan diri
- Jujur terhadap anggota keluarga yang lain
- Bersama-sama jujur kepada Allah
Setiap orang mendambakan
agar keluarganya dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk mengembangkan
diri, tempat yang dirindukan untuk pulang dan tinggal didalamnya.
Berbagai macam tantangan
yang sering dihadapi keluarga zaman moderen antara lain:
- Banyaknya aktivitas dari setiap anggota
keluarganya
- Bersikap egois
- Kurang adanya komunikasi antar anggota keluarga
- Kesempatan bertemu yang sangat kurang
dll
Menciptakan suasana keluarga yang aman, nyaman dan tentram bahagia merupakan tanggung jawab semua anggota keluarga. Hal ini hanya mungkin tercipta bila setiap anggota keluarga menunjukan perannya secara aktif dan bertanggung jawab.
Dalam keluarga. Orang tua
wajib kita hormati. Selain karena ini adalah perintah Allah (Keluaran 20:12) :
“ Hormatilah Ayahmu dan Ibumu, supaya lanjut umurmu ditanah yang diberikan
Tuhan kepadamu” karena orang tua adalah:
- Perantara hidup kita
- Yang mendidik dan mengarahkan hidup kita
sebagai manusia
- Sebagai tanda kehadiran Allah yang
memberikan perlindungan kepada kita
- Memberikan kenyamanan hidup serta mengarahkan kita kepada Allah
Kaitan antara hormat kepada
orang tua dengan panjang umur dan tanah yang dijanjikan Tuhan adalah:
- Orang tua dipandang sebagai wakil dari orang
tua
- Menghormati orang tua sama artinya dengan
mengasihi Allah
- Orang yang mengasihi Allah akan mendapat
berkat
- Salah satu berkat yang diberikan Allah adalah panjang umur dan perlindungan ditanah terjanji
Yesus sendiri memperlihatkan
sikap hormat dan penghargaan yang luhur kepada orang tuanya dengan cara:
- Berupaya memperdalam pengetahuan agama di Bait
Allah
- Yesus memperlihatkan keinginannya untuk menjadi
anak yang berguna bagi sesama (Luk 2: 41-52)
- Sebelum wafatNya, Yesus menitipkan ibuNya
kepada para muridNya (Yoh 19: 26-27)
Santo Paulus, juga mengajak
setiap orang untuk mendengarkan nasehat dan didikan orang tua yang ditegaskan
dalam Efesus 6:3
Dalam arti yang luas, hormat
kepada orang tua berdampak kepada kita untuk wajib menghormati setiap orang
seperti:
- Kakak-adik
- Para pendidik,Pembimbing dan Pimpinan
- Masyarakat
- Pemimpin Gereja
- Aturan masyarakat, aturan sekolah dll, sejauh ini menjadi persetujuan bersama yang harus kita taati.
B. PERAN SEKOLAH BAGI PERKEMBANGANKU
Lembaga Pendidikan baik formal,
informal maupun nonformal atau “Sekolah” mempunyai peran yang strategis dalamm
membantu proses pembentukan diri seseorang. Bahkan banyak orang tua yang
mengandalkan sekolah sebagai wadah utama pembinaan anak-anaknya.
Pendidik utama dan terutama adalah Orang Tua,
sedangkan sekolah hanya bersifat membantu. Tetapi sejalan dengan berkembangnya
Profesionalisme dalam segala bidang, Sekolah akhirnya menjadi tumpuan utama.
Kenyataan ini memang benar
adanya, Sekolah menjadi tempat orang mendapatkan banyak:
- Pengetahuan
- Wawasan
- Ketrampilan
Untuk hidup ditengah masyarakat
dan pada akhirnya semua orang sangat terbantu memeperkembangkan dirinya berkat
Sekolah.
Yang di maksud “SEKOLAH”
meliputi banyak aspek sarana dan prasarana, terutama manusia-manusia yang ada
didalamnya. Merakalah yang berperan leih banyak dalam proses pembentukan diri.
Mereka mempunyai peran masing-masing yang tidak pernah dapat dilupakan sesuai
dengan tugas dan fungsinya. Mereka itu adalah:
- Kepala
Sekolah
- Wakil
Kepala Sekolah
- Wali
kelas dan Bapak Ibu Guru
- Karyawan
Tata Usaha
- Karyawan/petugas kebersihan, Sopir, Satpam dll
Dalam Kitab Suci, tidak
digambarkan secara jelas, apakah Yesus bersekolah atau tidak. Tetapi Yesus
senantiasa belajar dari orang yang dianggap lebih mampu.
Dalam Kitab Suci dikisahkan
saat Yesus berkesempatan berkunjung ke
Bait Allah, banyak hal yang dapat kita teladani dari Yesus yaitu:
- Ia
menggunakan waktunya untuk bertanya jawab dengan ahli-ahli Taurat
- Ia
menjadi pribadi yang pembelajar
- Melalui
belajar itulah hikmatNya bertambah besar
- SemangatNya untuk belajar tidak terhalang oleh kemiskinan yang ada dalam keluargaNya yang hanyalah anak seorang tukang kayu.
Dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen ditegaskan tentang: Pentingnya pendidikan atau sekolah. Oleh karena itu, pelayanan pendidikan harus tertuju kepada semua orang, sebab melalui sekolah kita disiapkan untuk mampu hidup ditengah masyarakat, sehingga pada akhirnya kita semua perlu memiliki sejumlah pangetahuan dan keterampilan agar mampu hidup.
C. PERAN GEREJA BAGI PERKEMBANGANKU
Manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk beriman, yang mempunyai relasi secara khusus dengan Allah PenciptaNya. Tetapi manusis tak mungkin beriman jika tidak ada orang yang lebih dahulu beriman dan juga bila orang yang beriman sebelumnya tidak mewartakan imannya kepada generasi berikutnya.
Iman seseorang tidak akan
berkembang bila tidak ada relasi dan komunikasi antar orang beriman. Iman akan
beriman bila :
- Masing-masing
orang mau saling berbagi
- Ada
keterlibatan aktif dalam kegiatan dan pelayanan kaum beriman
- Ada
proses afiliasai pada komunitas iman (Gereja)
- Dibutuhkan
model hidup beriman yang baik dan benar
- Diperlukan
wadah untuk mengimplemantasikan imannya dalam kebersamaan dengan yang lain
Sesungguhnya sejak seseorang
dibaptis, ia menjadi komunitas Gereja yang dipanggil untuk ikut bertanggung
jawab dan terlibat aktif dalam kegiatan Gereja.
Sebab iman itu disatu pihak berdimensi pribadi tetapi dipihak lain berdimensi komunal/sosial.
Iman pertama-tama adalah : relasi pribadi seseorang dengan Tuhan yang perlu ditampakkan dalam kebersamaan. Orang beriman dapat memberi banyak hal demi kemajuan Gereja dan sebaliknya Gereja menyediakan berbagai macam pelayanan agar kehidupan orang beriman semakin berkembang menuju kesempurnaannya, baik melalui melalui keteladanan tokoh-tokohnya maupun melalui kegiatan-kegiatannya.
Untuk dapat mengembangkan diri, kita dapat belajar dari berbagai macam sumber. Salah satu sumber dapat kita temukan dalam komunitas jemaat beriman (Gereja). Kita dapat belajar dengan melihat sikap dan tindakan-tindakan baik yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh dalam Gereja, terytama melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan Gereja.
Banyak sikap dan keteladanan tokoh-tokoh umat yang terlibat dalam gereja yang dapat menjadi pelajaran bagi kita. Umumnya mereka terlibat dengan penuh semangat dan sukarela. Mereka aktif di Gereja, padahal untuk itu mereka seringkali harus berkorban tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka bekerja tanpa pamrih. Keteladanan macam ini dapat kita tiru oleh kita agar kitapun semakin bertumbuh menjadi pribadi yang sama dengan mereka.
Para Rasul dalam suratnya
kepada umat di Roma memberi penegasan tentang peranan orang-orang beriman yang
lebih dahulu bergabung dalam Gereja. Melalui kesaksian hidup dan iman mereka
itulah iman Gereja akan Yesus Kristus dan pelayanannya diteruskan dari generasi
ke generasi, sehingga manusia yang lahir di kemudian hari dapat mengenal Yesus
Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.
Atas jasanya itu, kita tidak
dapat melupakan begitu saja. Kita dapat mendoakan mereka. Tetapi terutama kita
dapat meneladan hidup mereka dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dari Gereja kita memperoleh:
·
Sabda Allah yang mencakup “hukum-hukum Kristus”
·
Rahmat sakramen
·
Teladan kekudusan
D.
PERAN MASYARAKAT BAGIKU
Istilah “masyarakat” memiliki arti yang luas.
Masyarakat adalah : keseluruhan yang konkret historis dari segala hubungan timbal balik antara manusia dengan macam-macam kelompok.
Masyarakat tersusun menurut macam-macam kelompok,
organisasi dan anggota dengan status dan peranan yang berbeda-beda. Oleh karena
itu hidup bermasyarakat harus diatur secara aktif dan adil. Sebagai makhluk
sosial, manusia membutuhkan masyarakat demi perkembangannya. Dalam masyarakat
terdapat:
- Kebiasaan
- Orang yang ditokohkan
- Norma
- Adat istiadat
- Aturan
- Sikap
- Pandangan pribadi maupun
kelompok
Unsur-unsur tersebut perlu disikapi secara kritis,
seperti :
·
Kita dapat belajar memiliki semangat berkorban dari tokoh tertentu, tetapi
kita juga hati-hati karena ada orang yang ditokohkan tapi kehidupannya tidak
patut
· Kita dapat belajar melakukan baik dalam masyarakat seperti gotong royong,
kerja bakti, menunjukkan solidaritas dengan warga dll
Hidup bermasyarakat mengandaikan:
- Kita mau hadir dan hidup
bersama dengan mereka
- Terlibat dalam aktivitas
mereka
- Memenuhi kewajiban yang ada
dalam masyarakat
- Bijak dan mendasarkan segala
sesuatu dalam masyarakat pada kebenaran.
Manusia sebagai makhluk sosial sudah mempunyai
ketergantungan pada sesamanya sejak diciptakan. Sikap saling ketergantungan ini
mengandaikan bahwa setiap orang harus menyadari kehadiran sesamanya dengan
memperlakukan mereka sebagaimana mestinya, dengan kata lain diperlukan suatu
azas hidup bersama yang harus dijunjung tinggi sehingga dalam berelasi satu
sama lain dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Adapun syarat dan prasyarat azas hidup bersama adalah:
Setiap anggota masyarakat harus memperlakukan orang
lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Contoh:
- Kalau
tidak ingin diejek jangan mengejek orang lain
- Kalau
tahu dipukul itu sakit , janganlah memukul
orang lain, karena orang lainpun pasti akan merasa sakit.
Prinsif-prinsif yang mengatur hubungan sosial dengan
baik adalah:
- Prinsif Solidaritas (Kesetiakawanan). Artinya: kita bertanggung jawab untuk kebersamaan dan kepentingan bersama bukan kepentingan diri sendiri saja
- Prinsip Subsidiaritas. Artinya:
- kita harus menghormati pribadi setiap orang dan perannnya
- Setiap orang harus dilihat sebagai sumber dan tujuan dari setiap giatan sosial kita
- Pribadi setiap orang tidak boleh diremehkan
Dalam Kitab Suci, Yesus memperlihatkan azas hidup
bersama yang dimaksud bukan hanya sekedar etiket pergaulan melainkan azas hidup
bersama itulah yang sesungguhnya harus dilakukan oleh setiap orang dalam hidup
bersam seperti yang diungkapkan dalam:
- Matius 7:12
“ segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya
orang perbuat padamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”
- Matius
22: 34-40
Relasi antar manusia harus
dilandasi dengan sikap kasih.
Sikap hidup yang adil, jujur dan tidak
egois merupakan prasyarat yang harus dijunjung tinggi dalam hidup bersama.
Tindakan kasih merupakan perwujudan dari kasih Allah sendiri.
Beberapa faktor yang dapat merusak kehidupan bersama
antara lain:
- Ketidak
jujuran
- Egoisme
atau mementingkan diri sendiri
- Siakap
tidak peduli terhadap orang lain
- Sikap
acuh tak acuh terhadap sesama
- Sombong
- Sikap tidak adil
Untuk mencapai hidup bersama yang selaras dibutuhkan
suatu azas hidup bersama baik yang berbentuk adat, aturan kelmpok, hukum agama
maupun hukum dan perundang-undangan.
Kerjasama akan berjalan dengan baik dan lancar, bila ada saling pengertian antar pribadi dan setiap orang juga harus berusaha memahami keinginan orang lain dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri.
E. BERTEMAN
“Tak kenal maka tak
sayang” dibalik
kalimat tersebut mempunyai pengertian bahwa seseorang yang hidup hendaknya
berteman, berelasi pada sesamanya agar dapat saling mengerti dan memahami
sehingga memungkinkan timbulnya rasa kasih sayang yang mendalam dan murni.
Berteman dapat diartikan: sebagai hubungan
atau relasi dimana terjadi antara dua orang
atau lebih baik itu seorang anak laki-laki dengan lawan jenisnya maupun
sejenisnya yang mempunyai tujuan untuk bersosialisasi ataupun untuk mencapai
sesuatu yang mau dicapai bersama.
Didalam proses berteman, tidak semuanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan, namun terkadang dengan keadaan dan situasi ataupun hal-hal lain yang sering ambil andil untuk terjadinya salah paham atau retaknya berteman.
Hubungan dalam pertemanan dapat hanya sebatas pada:
- Teman sepermainan
- Berusaha tidak saling
mengecewakan
- Teman belajar
- Teman bisnis/usaha/dagang
- Sekedar teman saja dll
Beberapa hal yang dapat menjadi hambatan dalam berteman
antara lain:
- Egois
- Acuh tak acuh
- Munafik
- Kurang peka akan kebutuhan
orang lain
- Pergaulan yang kurang luas
- Kurang mendapat perhatian sehingga sulit/tidak dapat memberi perhatian.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Filipi
2:1-8) secara gamblang menjelaskan kepada kita tentang bagaimana hendaknya kita
mengambil sikap dalam relasi/pertemanan dengan orang lain “,...hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu
tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang
sia-sia.” (Fil 2:1).
Paulus tetap dan senantiasa menasehatkan agar dalam
membangun relasi dengan sesama (berteman) hendaknya menempatkan orang lain yang
utama daripada kepentingan diri sendiri.
F. BERSAHABAT
Pertemanan yang biasa jika
dilakukan lebih intensif, akan dapat meningkat dalam relasinya menjadi PERSAHABATAN.
Relasi dengan teman tentu saja
tidak sedalam relasi kita dengan sahabat.
Mempunyai sahabat adalah
dambaan setiap orang, karena setiap orang adalah makhluk sosial yang tidak
dapat lepas dari orang lain yang senantiasa ingin bahagia dan atau gembira
bersama.
Sahabat adalah:
- Seseorang yang kita kasihi, kita percayai dan kita hormati secara khusus.
- Teman yang selalu ada untuk mendampingi ketika kita sangat membutuhkan
- Teman yang memberikan penghiburan ketika kita dalam kesusahan.
- Teman yang tidak membiarkan ketika kita berbuat salah
- Ia yang hadir untuk memberikan nasihat, menunjukkan arah ketika kita tersesat
- Dia yang bersedia menerima kita apa adanya, tidak pernah menuntut melebihi kemampuan kita.
- Seseorang yang setia menemani kita dalam suka maupun duka,
Persahabatan adalah: Bentuk khusus kebersamaan yang memungkinkan orang dapat berbagi rasa dalam suka dan duka serta saling menolong dengan kerelaan berkorban.
Ciri-ciri Persahabatan yang baik adalah:
- Saling
mengasaihi, dapat
ditunjukkan misalnya dengan:
- selalu mau membantu
- rela berkorban tanpa pamrih
- tahu bertenggang rasa dll.
- Saling
Mempercayai,
misalnya:
- saling membuka diri menceritakan suka duka hidup
- memberi pujian dan kritik kepada sahabt dengan jujur
- dapat menjaga rahasia sahabat
- Saling
Menghormati,
misalnya:
- menerima sahabat apa adanya dengan segala kelebihan
dan kekurangannya
- mau mendengar keluh kesah sahabat
- mau mendengar tindakan dan ucapan sahabat sebagi sesuatu yang penting
Dalam persahabatan kita dapat saling menerima dan
memberi diri sehingga kita dapat sama-sama belajar, tumbuh dan berkembang
secara lahir dan bathin.
Bersahabat merupakan pendalaman dari proses perjumpaan,perkenalan, dan pertemanan dengan orang lain. Persahabatan itu tidak eksklusif dan sebagai cerminan dari keluasan wawasan hidup seseorang. Persahabatan itu tidak sekali jadi, melainkan tumbuh dalam proses yang berjalan. Kita bisa saja mempunyai banyak teman tetapi sedikit sahabat. Menjadi sahabat adalah soal kehendakdan pilihan sikap untuk terus membangun relasi dalam kejujuran.
Syarat membangun Persahabatan adalah: Kejujuran
diri dalam berkomunikasi
- Kejujuran dalam arti ini adalah: menerima, melaksanakan, memperlihatkan dan melindungi kebenaran.
- Menerima berarti: mengakui kebenaran, entah itu datang dari mana ataupun dari siapa yang mengatakannya.
- Melaksanakan berarti: bertindak dan bersikap sesuai dengan kebenaran dan kenyataan serta melindungi dari yang tidak berhak.
Norma yang dipakai adalah Cinta Kasih yang
Bijaksana.
Dalam ajaran Gereja, selalu
menunjukkan dan mengajarkan bagaimana menjadi orang Katolik yang setia pada
sahabat seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci, terdapat contoh yang mengisahkan tentang
“Persahabatan Sejati”yaitu:
Persahabatan Daud dan
Yonathan (1 Samuel 18: 1-4, 20: 1-43) yaitu:
- Yonathan adalah putera Raja Saul, ia
bersahabat dengan Daud, tetapi Raja Saul
tidak suka pada Daud karena iri pada kemampuan Daud
- Raja Saul berniat membunuh Daud,
tetapi Yonathan tetap menjalin persahabatan dengan Daun dan menyelamatkan
Daud dari ancaman ayahnya.
- Kisah tersebut menunjukkan segi
pandangan Kristiani bahwa:
- Persahabatan mengandalkan kejujuran
- Dalam persahabatan perlu keterbukaan untuk saling membangun
- Persahabatan didasari kebenaran yang tidak dapat dikalahkan oleh ikatan apapun (baik ikatan darah, ikatan fungsional maupun ikatan apapun)
- Sikap Yonathan patut dipuji, karena ia
tidak merasa persahabatannya dengan Daud harus hancur walaupaun antara
sahabat dan ayahnya kurang baik hubungannya.
- Persahabatan tidak dapat
dicampuradukkan dengan urusan keluarga, Yonathan berusaha jujur dengan Daud sahabatnya
dengan mengatakan apa adanya tentang ayahnya agar sahabatnya selamat, termasuk menceritakan bagaimana
sikap Raja Saul.
- Walaupun Yonathan adalah putra
Mahkota, tetapi ia tidak takut kedudukannya digeser oleh Daud dan semua
yang dilakukan Yonathan untuk menyelamatkan Daud dilakukan tanpa pamrih.
Menurut Yesus,
persahabatan sejati terletak pada:
- Cinta yang rela berkorban (bahkan korban
nyawa sekalipun)
- . Rela memaafkan
- . Kebersamaan dalam rahasia hidup dan
perjuangan
Yesus adalah contoh tokoh sahabat yang paling agung, karena Ia mengajarkan kepada kita tentang hakekat dan makna dari persahabatan sejati.
Sikap yang sering dapat menghancurkan Persahabatan antara
lain:
- Egois
atau mencari keuntungan sendiri
- Munafik
atau sikap pura-pura (lain dimulut lain dihati dan yang dilakukan)
- Ketidakjujuran,
- Tidak
setia dll
Persahabatan yang baik akan menumbuhkan sikap:
- Cinta
kasih
- Keterbukaan
- Kejujuran
- Rela
berkorban tanpa pamrih
- Saling
memahami
- Setia
- Tidak mencari keuntungan sendiri.
Persahabatan yang sejati adalah
persahabat yang sungguh-sungguh berorientasi pada orang yang dikasihinya. Orientasi
ini memampukan dirinya untuk:
- Berbuat
tanpa pamrih
- Berani
meninggalkan dirinya sendiri demi sahabat yang tidak hanya bersama kala
suka tetapi hadir terutama saat duka menimpa
- Berani berkorban segalanya demi sahabat.
Menurut Yesus,
persahabatan sejati terletak pada:
- Cinta
yang rela berkorban (bahkan korban nyawa sekalipun)
- Rela
memaafkan
- Kebersamaan
dalam rahasia hidup dan perjuangan
Yesus adalah
contoh tokoh sahabat yang paling agung, karena Ia mengajarkan kepada kita
tentang hakekat dan makna dari persahabatan sejati.
Persahabatan
Sejati dapat terjadi apabila ada:
- Kehendak
baik
- Cinta
- Kejujuran
- Sikap
terbuka
- Solidaritas/Setia
kawan
- Rela
berkorban
- Siap
mendengarkan
- Empati
Dengan
sikap-sikap tsb diatas, kita bertumbuh sebagi pribadi yang integratif dan
dewasa serta saling memperbaiki dan tidak ada istilah yang satu memperalat yang
lain.
Model tokoh
sahabat sejati adalah: Yesus Kristus sendiri, karena:
- . Ia begitu setia dan perhatian terhadap kita
- . Ia mati-matian membela kita sahabatNya
- . Segala sesuatu disingkapNya bagi kita
sahabatNya
Hal tersebut
secara jelas dan tegas diungkapkan Yesus dalam injil Yohanes 15:13-15
G. BERPACARAN
Seiring dengan perkembangannya, seorang remaja akan
memasuki relasi sosial yang semakin luas. Awalnya lebih senang bergaul atau
membentuk kelompok dengan teman yang sejenis, lama kelamaan akan mulai merasa
perlu untuk menjalin relasi dengan teman lawan jenisnya.
Bahkan untuk menarik perhatian lawan jenisnya,
remaja mencoba untuk menampilhan diri sebaik mungkin, misalnya:
- Menjaga tutur katanya
- Menjaga penampilan dan image diri
- Berupaya mempercantik diri dan menampilkan diri sebaik mungkin agar lawan jenis tertarik
- Berusaha
merawat diri dan menjaga penampilan
- Mulai
mencari perhatian dengan lawan jenis yang disukai dgn bermacam cara dll
Selain itu,
ditemukan juga dampak negatif perubahan prilaku sebagi dampak dari ketertarikan
terhadap lawan jenis yaitu:
- Konsentrasi
belajar menurun
- Berbohong
dalam hal keuangan dengan orang tua untuk menyenangkan
pacar
- Mencari-cari alasan agar dapat pergi dengan pacarnya.
Gejala dan dampak negatif dari rasa ketertarikan dengan lawan jenis tsb perlu diantisipasi baik oleh guru dan orang tua supaya mendapat pendampingan yang memadai agar para remaja yang mulai memiliki rasa tertarik dengan lawan jenis tidak salah jalan
Petemanan yang mendalam dan khusus dengan lawan
jenis, pada akhirnya akan terjalinlah hubungan khusus yang disebut dengan “PACARAN”.
Berpacaran dapat diterima secara wajar karena hal
itu merupakan perkembangan dari persahabatan sejati oleh dua orang yang
berlainan jenis.
Pacaran yang sehat tidak hanya tertarik untuk menyenangkan diri, namun menuntut perlakuan yang hormat dan suci terhadap pacar.
Remaja SMP perlu memahami secara benar tentang
masalah pacaran yang baik, sehingga dampak negatif dari pacaran itu tidak
terjadi, tetapi malah sebaliknya mereka menjadi mampu menempatkan diri dengan
baik dalam menjalin relasi dengan teman terlebih lawan jenis
Tema “Pacaran”
sering dikaitkan dengan cinta atau orang yag sedang “kasmaran” alias jatuh
cinta. Pengalaman ini merupkan peristiwa yang menyenangkan, membahagiakan dan
membuat orang bingung mabuk kepayang.
Pacaran terjadi jika tahap pertemuan, perkenalan dan pertemanan telah dilalui dalam proses perjumpaan untuk menjadi sahabat.
Hubungan antara
Cinta dengan Pacaran
- Cinta merupakan daya yang mendorong seserang untuk membangun kebersamaaan atau hidup bersama yang lebih baik dengan orang yang disayangi
- Dengan cinta seseorang ingin memberikan sesuatu dari dirinya sendiri kepada orang lain serta ada dorongan untuk membahagiakan orang lain
- Cinta itu memperkembangkan dan mengisi hidup manusia
- Tidak ada kebahagiaan yang begitu diharapkan sedemokian rupa cinta dan tidak ada penderitaan yang begitu mendalam daripada seseorang yang ditolak cintanya
- Cinta membuat hidup lebih hidup
- Orang yang tidak pernah dicintai oleh orang lain misalnya oleh keluarga, teman dan selalu tersingkir, orang tsb akan mengalami hidup yang merana, kering & sepi
- Walaupun gagah, kaya raya dan pandai, kalau cintanya ditolak oleh sang kekasih, ia akan merasa kehilangan segala-galanya dan putus asa
Dari hal-hal tsb diatas jelasalah bahwa manusia membutuhkan cinta, membutuhkan dimengerti dan diterima seluruh hidupnya, setidaknya oleh satu orang yang diharapkan.
Pacaran adalah: adanya daya tarik dengan lawan jenis yang mengarah kepada kepada hubungan yang khusus.
Allah menciptakan pria dan wanita, serupa tapi tidk sama, justru perbedaan itulah pria dan wanita saling tertarik. Mereka saling membutuhkan untuk saling melengkapi dan membahagiakan serta saling mencintai.
Rasa tertarik kepada lawan jenis merupakan bagian dari proses pertumbuhan remaja menuju kedewasaan. Setiap orang akan atau pernah mengalaminya. Rasa tertarik itu sendiri bahkan oleh diberikan Allah sendiri. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan agar saling tertarik dan dengan demikian mereka dapat saling membantu memperkembangkan satu terhadap yang lain.
Rasa tertarik
atas lawan jenis itu perlu kita tata atau kelola serta kita kendalikan secara
bertanggung jawab. Itulah sebabnya, kita mengenal adanya tahap-tahap
ketertarikan seseorang terhadap lawan jenisnya.
Adapun
tahap-tahap ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sebagai berikut:
1.
Tahap
pergaulan biasa
Pada tahap ini pria dan wanita dapat
bergaul denga sesamanya secara sehat bebas dan bertanggung jawab. Biasanya
perasaan yang muncul terhadap lawan jenis berjalan dengan wajar tanpa ada
perasaan apapun.
2.
Tahap
pergaulan khusus
Pada tahap ini pergaulan sudah mengarah
kepada seseorang/lawan jenis secara akrab dan terbatas. Biasanya remaja selain
bergaul dengan siapa saja, mulai ada diantaranya yang tertarik secara khusus
kepada lawan jenis dan mulai bersahabat
secara khusus atau naksir, tahap ini biasa disebut juga Masa pacaran
3.
Tahap
pertunangan
Pada tahap ini pria dan wanita telah mengikat janji sebagai persiapan akhir menjelang perkawinan. Setelah dewasa biasanya rasa ketertarikan atau pacaran itu biasanya akan lebih diarahkan menuju jenjang perkawinan.
Berpacaran merupakan hak setiap orang, tetapi setiap orang perlu secara bijaksana menentukan kapan ia akan mulai berpacaran. Sebab berpacaran yang tidak terarah dan tidak pada tujuannya dapat mendatangkan bencana yang merugikan, tidak hanya diri kita sendiri atau sang pacar, melainkan juga keluarga, bahkan masyarakat.
Masa pacaran
bertujuan untuk:
·
Saling
mengenal satu sama lain
·
Mengenal
kepribadiannya
·
Tahu
kebiasaan baik dan buruknya
·
Mengenal
latar belakang latar belakang keluarganya
·
Tahu
latar belakang keluarga,
sosial ekonomi, pendidikannya
dll
Dengan mengenal
pacar secara sungguh-sungguh, diharapkan kelak bila sampai menikah mereka akan
menjadi pasangan yang berbahagia, yang tidak banyak mengalami masalah atau
konflik dalam kehidupan rimah tangga mereka.
Kitab suci
memberikan inspirasi kepada kita dalam menghayati tahap-tahap pergaulan dengan
lawan jenis seperti yang terungkap dalam Injil Lukas 14: 28-34 yaitu:
·
Agar
mampu menyelesaikan suatu pekerjaan, seseorang harus memiliki persiapan cukup,
seperti halnya seseorang yang akan mendirikan suatu menara.
·
Dalam
mengikuti Yesus ada tuntutan khusus misalnya:
Ø adanya persiapan
Ø adanya kesediaan untuk lepas dari berbagai
keterikatan atau kepentingan diri sendiri
Ø adanya kesediaan untuk mendengarkan
Ø adanya kesediaan untuk mengikuti ajaranNya
dll
· Setiap pengikut Yesus juga diharapkan dapat
mewujudkan tuntutan tsb dalam hidup sehari-hari, termasuk ketika memasuki masa
pacaran
· Masa pacaran perlu dilalui secara bertanggug jawab. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa bersatu dengan Allah, agar Allah sendiri membimbing hubungan kita dengan sang pacar.
Adapun kriteria
pacaran yang sehat adalah:
- Dilakukan
dalam rangka memilih hidup berkeluarga
- Dasarnya
adalah cinta kasih bukan hanya hal-hal yng sifatnya biologis semata
- Waspada terhadap kemungkinan pelecehan seksual, pelanggaran asusila dan akibatnya dll
Beberapa Nasehat Kitab Suci soal
Pacaran
· Jagalah hatimu, Kitab Suci mengajarkan kepada
kita untuk berhati-hati dalam memberikan/menyampaikan kasih sayang kita, karena
hati mempengaruhi segala sesuatu dalam hidup kita (Amsal 4:23)
· Kamu akan menjadi seperti
teman-temanmu bergaul. Kita juga cenderung menjadi seperti teman-teman sepergaulan kita. Prinsip
ini berhubungan erat dengan menjaga hati yang sama pentingnya dalam pergaulan
seperti hubungan dalam pacara (1 Korintus 15:33)
· Dalam pacaran harus mengikuti standar moral Alkitab. Pacaran yang benar harus didasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada dalam Kristus, seperti yang terungkap dalam Roma 12:12, Yeremia 29;11 dan Amsal 23:18.
Gereja tidak
pernah memaksa umatnya untuk harus menjalani proses pacaran atau pertunangan
tertentu, tetapi yang diharapkan adalah agar proses itu dilalui terserah
bagaimana caranya yang penting sesuai dengan norma, nilai aturan serta adat
istiadat setempat dan dihayati dalam semangat iman serta terang Kristiani.