31 Maret 2022

MATERI KELAS VII: BAB 3: PERAN KELUARGA, SEKOLAH, GEREJA DAN MASYARAKAT BAGI PERKEMBANGANKU

  •  

BAB 3

PERAN KELUARGA, SEKOLAH, GEREJA DAN MASYARAKAT BAGI PERKEMBANGANKU

 Manusia adalah makhluk sosial (Homo Socius), karena ia hidup dalam kebersamaan dan saling membantu untuk mengembangkan diri. 

Setiap pribadi mempunyai peran yang unik demi tujuan hidup bersama misalnya

  1.  Dalam keluarga:  Kita berperan sebagai anak Ayah dan ibu sebagai orang tua
  2. Di sekolah: ada peran guru, murid, pegawai tata usaha dll

Satiap orang orang berlatar belakang sosial. Manusia merupakan produk masyarakat yang menyejarah. Konteks  sosial ini ikut membentuk jalan pikiran dan cita-cita serta prestasi seseorang.

Untuk mendukung perkembangan kepribadiaan kita dalam berelasi, kita membutuhkan situasi yang:

  1. Harmoni adalah: keselarasan yang membangkitkan tantangan bagi seseorang untuk menemukan diri sendiri secara unik dan berkreasi. Harmoni memberi ruang gerak bagi kebebasan.
  2. Damai adalah: situasi yang membuat seseorang menemukan tempat yang enak atau nyaman untuk memperluas cakrawala pandangan hidupnya.
  3. Indah adalah : merupakan kesatuan organik yang dibentuk oleh setiap orang sebagai anggota komunitas atau kelompok dengan saling memperkaya dan saling mendukung demi perkembangan pribadi dan kehidupan brsama 

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk dapat memperkembangkan dirinya, bahkan orang tidak hanya membutuhkan orang lain saja, tetapi ia juga dubutuhkan oleh orang lain untuk ikut mengembangkan diri mereka.

 Orang yang dimaksud adalah:

  • Orang tua                    
  • Saudara kandung
  • Teman
  • Guru
  • Tetangga
  • Famili jauh
  • Pedagang dll 

Ada 4 (empat) lingkup hidup tempat manusia bertumbuh dan berkembang yakni:

  • Keluarga
  • Jemaat (Gereja)
  • Sekolah
  • Masyarakat

Yang masing-masing lingkup ini memberi peran dan pengaruh secara khas. 

A.     PERAN KELUARGA BAGI PERKEMBANGANKU 

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang menjadi tempat seseorang tumbuh dan berkembang. Semua anggota keluarga pasti akan mempengaruhi dan membentuk diri kita menjadi seperti yang sekarang ini. Pengaruh antara anggota keluarga yang satu dan anggota keluarga yang lain sangat ditentukan oleh peran masing-masing, misalnya:

·       Orang tua, mempunyai peran yang paling besar seperti: menari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup keluarga, mendidik dan mendampingi anak-anak menuju kedewasaan, memberikan contoh dan teladan yang baik, mencukupi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dll

·      Sebagai anak, kita dapat memperlihatkan peran denagn berbagai macam bentuk seperti: membantu menjaga kebersihan rumah, mengurus pakaian sendiri, membantu meringankan pekerjaan orang tua dll

·   Semua anggota keluarga, juga mempunyai peran yang sangat penting yaitu: mencintai dan mengasihi semua anggota keluarga, karena melalui peran mereka masing-masing kita mendapatkan banyak yang kita butuhkan untuk hidup seperti: kasih saying, pengetahuan, ketarampilan, materi, dll

Aku dan keluarga adalah satu kesatuan dalam sejarah hidupku. Keluarga adalah unit dari masyarakat, yang merupakan kesatuan individu-individu dalam ikatan cinta kasih. 

Keluarga menjadi tempat pembentukan manusia, atau lebih tepatnya sebagai tempat menanusiakan manusia artinya: Proses tercapainya kepribadian seorang manusia justru mulai dari keluarga.

Dalam lingkungan keluarga, semua anggota dari kanak-kanak hingga kakek-nenek berkembang saling berkembang saling membantu untuk memperkembangkan kepribadian masing-masing dalam kontak erat satu sama lain. 

Kebahagiaan adalah tujuan hidup berkeluarga. Kebahagiaan ini hanya dapat tercapai apabila dalam keluarga ada suasana:

  1. Saling mengerti antar individu, karena setiap individu (ayah, ibu dan anak) mempunyai keunikan masing-masng,
  2. Rendah hati yakni, mau mengakui serta memahami keadaan sesuai kenyataannya 
  3. Saling menghormati dan setia satu sama lain (Efesus 6: 1-9)
  4. Saling terbuka

Suasana ini hanya dapat terjadi apabila dijadikan oleh masing-masing anggota keluarga.

Ini berarti setiap individu ikut ambil bagian daalm membangun suasana tersebut, Inilah yang disebut “solidaritas keluarga

Dalam membangun proses solidaritas keluarga, kejujuran mempunyai peranan penting yaitu :

  • Jujur terhadap diri sendiri
  • Mengakui kekurangan dan kelemahan diri
  • Jujur terhadap anggota keluarga yang lain
  • Bersama-sama jujur kepada Allah

Setiap orang mendambakan agar keluarganya dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk mengembangkan diri, tempat yang dirindukan untuk pulang dan tinggal didalamnya.

Berbagai macam tantangan yang sering dihadapi keluarga zaman moderen antara lain:

  • Banyaknya aktivitas dari setiap anggota keluarganya
  • Bersikap egois
  • Kurang adanya komunikasi antar anggota keluarga
  • Kesempatan bertemu yang sangat kurang dll

Menciptakan suasana keluarga yang aman, nyaman dan tentram bahagia merupakan tanggung jawab semua anggota keluarga. Hal ini hanya mungkin tercipta bila setiap anggota keluarga menunjukan perannya secara aktif dan bertanggung jawab. 

Dalam keluarga. Orang tua wajib kita hormati. Selain karena ini adalah perintah Allah (Keluaran 20:12) : “ Hormatilah Ayahmu dan Ibumu, supaya lanjut umurmu ditanah yang diberikan Tuhan kepadamu” karena orang tua adalah:

  • Perantara hidup kita
  • Yang mendidik dan mengarahkan hidup kita sebagai manusia
  • Sebagai tanda kehadiran Allah yang memberikan perlindungan kepada kita
  • Memberikan kenyamanan hidup serta mengarahkan kita kepada Allah 

Kaitan antara hormat kepada orang tua dengan panjang umur dan tanah yang dijanjikan Tuhan adalah:

  • Orang tua dipandang sebagai wakil dari orang tua
  • Menghormati orang tua sama artinya dengan mengasihi Allah
  • Orang yang mengasihi Allah akan mendapat berkat
  • Salah satu berkat yang diberikan Allah adalah panjang  umur dan perlindungan ditanah terjanji 

Yesus sendiri memperlihatkan sikap hormat dan penghargaan yang luhur kepada orang tuanya dengan cara:

  • Berupaya memperdalam pengetahuan agama di Bait Allah
  • Yesus memperlihatkan keinginannya untuk menjadi anak yang berguna bagi sesama (Luk 2: 41-52)
  • Sebelum wafatNya, Yesus menitipkan ibuNya kepada para muridNya (Yoh 19: 26-27)

Santo Paulus, juga mengajak setiap orang untuk mendengarkan nasehat dan didikan orang tua yang ditegaskan dalam Efesus 6:3

Dalam arti yang luas, hormat kepada orang tua berdampak kepada kita untuk wajib menghormati setiap orang seperti:

  • Kakak-adik
  • Para pendidik,Pembimbing dan Pimpinan
  • Masyarakat
  • Pemimpin Gereja
  • Aturan masyarakat, aturan sekolah dll, sejauh ini menjadi persetujuan bersama yang harus kita taati. 

B.     PERAN SEKOLAH BAGI PERKEMBANGANKU 

Lembaga Pendidikan baik formal, informal maupun nonformal atau “Sekolah” mempunyai peran yang strategis dalamm membantu proses pembentukan diri seseorang. Bahkan banyak orang tua yang mengandalkan sekolah sebagai wadah utama pembinaan anak-anaknya.

Pendidik utama dan terutama adalah Orang Tua, sedangkan sekolah hanya bersifat membantu. Tetapi sejalan dengan berkembangnya Profesionalisme dalam segala bidang, Sekolah akhirnya menjadi tumpuan utama.

Kenyataan ini memang benar adanya, Sekolah menjadi tempat orang mendapatkan banyak:

  • Pengetahuan
  • Wawasan
  • Ketrampilan

Untuk hidup ditengah masyarakat dan pada akhirnya semua orang sangat terbantu memeperkembangkan dirinya berkat Sekolah.

Yang di maksud “SEKOLAH” meliputi banyak aspek sarana dan prasarana, terutama manusia-manusia yang ada didalamnya. Merakalah yang berperan leih banyak dalam proses pembentukan diri. Mereka mempunyai peran masing-masing yang tidak pernah dapat dilupakan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Mereka itu adalah:

  • Kepala Sekolah
  • Wakil Kepala Sekolah
  • Wali kelas dan Bapak Ibu Guru
  • Karyawan Tata Usaha
  • Karyawan/petugas kebersihan, Sopir, Satpam dll 

Dalam Kitab Suci, tidak digambarkan secara jelas, apakah Yesus bersekolah atau tidak. Tetapi Yesus senantiasa belajar dari orang yang dianggap lebih mampu.

Dalam Kitab Suci dikisahkan saat Yesus  berkesempatan berkunjung ke Bait Allah, banyak hal yang dapat kita teladani dari Yesus yaitu:

  • Ia menggunakan waktunya untuk bertanya jawab dengan ahli-ahli Taurat
  • Ia menjadi pribadi yang pembelajar
  • Melalui belajar itulah hikmatNya bertambah besar
  • SemangatNya untuk belajar tidak terhalang oleh kemiskinan yang ada dalam keluargaNya yang hanyalah anak seorang tukang kayu. 

Dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen ditegaskan tentang: Pentingnya pendidikan atau sekolah. Oleh karena itu, pelayanan pendidikan harus tertuju kepada semua orang, sebab melalui sekolah kita disiapkan untuk mampu hidup ditengah masyarakat, sehingga pada akhirnya kita semua perlu memiliki sejumlah pangetahuan dan keterampilan agar mampu hidup. 

C.     PERAN GEREJA BAGI PERKEMBANGANKU 

Manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk beriman, yang mempunyai relasi secara khusus dengan Allah PenciptaNya. Tetapi manusis tak mungkin beriman jika tidak ada orang yang lebih dahulu beriman dan juga bila orang yang beriman sebelumnya tidak mewartakan imannya kepada generasi berikutnya. 

Iman seseorang tidak akan berkembang bila tidak ada relasi dan komunikasi antar orang beriman. Iman akan beriman bila :

  • Masing-masing orang mau saling berbagi
  • Ada keterlibatan aktif dalam kegiatan dan pelayanan kaum beriman
  • Ada proses afiliasai pada komunitas iman (Gereja)
  • Dibutuhkan model hidup beriman yang baik dan benar
  • Diperlukan wadah untuk mengimplemantasikan imannya dalam kebersamaan dengan yang lain

Sesungguhnya sejak seseorang dibaptis, ia menjadi komunitas Gereja yang dipanggil untuk ikut bertanggung jawab dan terlibat aktif dalam kegiatan Gereja.

Sebab iman itu disatu pihak berdimensi pribadi tetapi dipihak lain berdimensi komunal/sosial. 

Iman pertama-tama adalah : relasi pribadi seseorang dengan Tuhan yang perlu ditampakkan dalam kebersamaan. Orang beriman dapat memberi banyak hal demi kemajuan Gereja dan sebaliknya Gereja menyediakan berbagai macam pelayanan agar kehidupan orang beriman semakin berkembang menuju kesempurnaannya, baik melalui melalui keteladanan tokoh-tokohnya maupun melalui kegiatan-kegiatannya. 

Untuk dapat mengembangkan diri, kita dapat belajar dari berbagai macam sumber. Salah satu sumber dapat kita temukan dalam komunitas jemaat beriman (Gereja). Kita dapat belajar dengan melihat sikap dan tindakan-tindakan baik yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh dalam Gereja, terytama melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan Gereja. 

Banyak sikap dan keteladanan tokoh-tokoh umat yang terlibat dalam gereja yang dapat menjadi pelajaran bagi kita. Umumnya mereka terlibat dengan penuh semangat dan sukarela. Mereka aktif di Gereja, padahal untuk itu mereka seringkali harus berkorban tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka bekerja tanpa pamrih. Keteladanan macam ini dapat kita tiru oleh kita agar kitapun semakin bertumbuh menjadi pribadi yang sama dengan mereka. 

Para Rasul dalam suratnya kepada umat di Roma memberi penegasan tentang peranan orang-orang beriman yang lebih dahulu bergabung dalam Gereja. Melalui kesaksian hidup dan iman mereka itulah iman Gereja akan Yesus Kristus dan pelayanannya diteruskan dari generasi ke generasi, sehingga manusia yang lahir di kemudian hari dapat mengenal Yesus Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.

 

Atas jasanya itu, kita tidak dapat melupakan begitu saja. Kita dapat mendoakan mereka. Tetapi terutama kita dapat meneladan hidup mereka dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dari Gereja kita memperoleh:

·         Sabda Allah yang mencakup “hukum-hukum Kristus”

·         Rahmat sakramen

·         Teladan kekudusan

 

D.     PERAN MASYARAKAT BAGIKU 

Istilah “masyarakat” memiliki arti yang luas.

Masyarakat adalah : keseluruhan yang konkret historis dari segala hubungan timbal balik antara manusia dengan macam-macam kelompok.

Masyarakat tersusun menurut macam-macam kelompok, organisasi dan anggota dengan status dan peranan yang berbeda-beda. Oleh karena itu hidup bermasyarakat harus diatur secara aktif dan adil. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan masyarakat demi perkembangannya. Dalam masyarakat terdapat:

  • Kebiasaan
  • Orang yang ditokohkan
  • Norma
  • Adat istiadat
  • Aturan
  • Sikap
  • Pandangan pribadi maupun kelompok

Unsur-unsur tersebut perlu disikapi secara kritis, seperti :

·         Kita dapat belajar memiliki semangat berkorban dari tokoh tertentu, tetapi kita juga hati-hati karena ada orang yang ditokohkan tapi kehidupannya tidak patut

·     Kita dapat belajar melakukan baik dalam masyarakat seperti gotong royong, kerja bakti, menunjukkan solidaritas dengan warga dll

Hidup bermasyarakat mengandaikan:

  • Kita mau hadir dan hidup bersama dengan mereka
  • Terlibat dalam aktivitas mereka
  • Memenuhi kewajiban yang ada dalam masyarakat
  • Bijak dan mendasarkan segala sesuatu dalam masyarakat pada kebenaran. 

Manusia sebagai makhluk sosial sudah mempunyai ketergantungan pada sesamanya sejak diciptakan. Sikap saling ketergantungan ini mengandaikan bahwa setiap orang harus menyadari kehadiran sesamanya dengan memperlakukan mereka sebagaimana mestinya, dengan kata lain diperlukan suatu azas hidup bersama yang harus dijunjung tinggi sehingga dalam berelasi satu sama lain dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Adapun syarat dan prasyarat azas hidup bersama adalah:

Setiap anggota masyarakat harus memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Contoh:

  • Kalau tidak ingin diejek jangan mengejek orang lain
  • Kalau tahu dipukul itu sakit , janganlah memukul orang lain, karena orang lainpun pasti akan merasa sakit.

Prinsif-prinsif yang mengatur hubungan sosial dengan baik adalah:

  • Prinsif Solidaritas (Kesetiakawanan). Artinya: kita bertanggung jawab untuk kebersamaan dan kepentingan bersama bukan kepentingan diri sendiri saja
  • Prinsip Subsidiaritas. Artinya: 
  1. kita harus menghormati pribadi setiap orang dan perannnya
  2. Setiap orang harus dilihat sebagai sumber dan tujuan dari setiap   giatan sosial kita
  3. Pribadi setiap orang tidak boleh diremehkan

 

Dalam Kitab Suci, Yesus memperlihatkan azas hidup bersama yang dimaksud bukan hanya sekedar etiket pergaulan melainkan azas hidup bersama itulah yang sesungguhnya harus dilakukan oleh setiap orang dalam hidup bersam seperti yang diungkapkan dalam:

  • Matius 7:12

“ segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat padamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”

  • Matius 22: 34-40 

Relasi antar manusia harus dilandasi dengan sikap kasih.

Sikap hidup yang adil, jujur dan tidak egois merupakan prasyarat yang harus dijunjung tinggi dalam hidup bersama.

Tindakan kasih merupakan perwujudan dari kasih Allah sendiri. 

Beberapa faktor yang dapat merusak kehidupan bersama antara lain:

  • Ketidak jujuran
  • Egoisme atau mementingkan diri sendiri
  • Siakap tidak peduli terhadap orang lain
  • Sikap acuh tak acuh terhadap sesama
  • Sombong
  • Sikap tidak adil 

Untuk mencapai hidup bersama yang selaras dibutuhkan suatu azas hidup bersama baik yang berbentuk adat, aturan kelmpok, hukum agama maupun hukum dan perundang-undangan.

Kerjasama akan berjalan dengan baik dan lancar, bila ada saling pengertian antar pribadi dan setiap orang juga harus berusaha memahami keinginan orang lain dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri. 

E.     BERTEMAN 

“Tak kenal maka tak sayang” dibalik kalimat tersebut mempunyai pengertian bahwa seseorang yang hidup hendaknya berteman, berelasi pada sesamanya agar dapat saling mengerti dan memahami sehingga memungkinkan timbulnya rasa kasih sayang yang mendalam dan murni.

Berteman dapat diartikan: sebagai hubungan atau relasi dimana terjadi antara dua  orang atau lebih baik itu seorang anak laki-laki dengan lawan jenisnya maupun sejenisnya yang mempunyai tujuan untuk bersosialisasi ataupun untuk mencapai sesuatu yang mau dicapai bersama.

Didalam proses berteman, tidak semuanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan, namun terkadang dengan keadaan dan situasi ataupun hal-hal lain yang sering ambil andil untuk terjadinya salah paham atau retaknya berteman. 

Hubungan dalam pertemanan dapat hanya sebatas pada:

  • Teman sepermainan
  • Berusaha tidak saling mengecewakan
  • Teman belajar
  • Teman bisnis/usaha/dagang
  • Sekedar teman saja dll

Beberapa hal yang dapat menjadi hambatan dalam berteman antara lain:

  • Egois
  • Acuh tak acuh
  • Munafik
  • Kurang peka akan kebutuhan orang lain
  • Pergaulan yang kurang luas
  • Kurang mendapat perhatian sehingga sulit/tidak dapat memberi perhatian. 

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Filipi 2:1-8) secara gamblang menjelaskan kepada kita tentang bagaimana hendaknya kita mengambil sikap dalam relasi/pertemanan dengan orang lain “,...hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.” (Fil 2:1).

Paulus tetap dan senantiasa menasehatkan agar dalam membangun relasi dengan sesama (berteman) hendaknya menempatkan orang lain yang utama daripada kepentingan diri sendiri. 

F.      BERSAHABAT 

Pertemanan yang biasa jika dilakukan lebih intensif, akan dapat meningkat dalam relasinya menjadi PERSAHABATAN.

Relasi dengan teman tentu saja tidak sedalam relasi kita dengan sahabat.

Mempunyai sahabat adalah dambaan setiap orang, karena setiap orang adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari orang lain yang senantiasa ingin bahagia dan atau gembira bersama. 

Sahabat adalah:

  1. Seseorang yang kita kasihi, kita percayai dan kita hormati secara khusus.
  2. Teman yang selalu ada untuk mendampingi ketika kita sangat membutuhkan
  3. Teman yang memberikan penghiburan ketika kita dalam kesusahan.
  4. Teman yang tidak membiarkan ketika kita berbuat salah
  5. Ia yang hadir untuk memberikan nasihat, menunjukkan arah ketika kita tersesat
  6. Dia yang bersedia menerima kita apa adanya, tidak pernah menuntut melebihi kemampuan kita.
  7. Seseorang yang setia menemani kita dalam suka maupun duka,

Persahabatan adalah: Bentuk khusus kebersamaan yang memungkinkan orang dapat berbagi rasa dalam suka dan duka serta saling menolong  dengan kerelaan berkorban. 

Ciri-ciri Persahabatan yang baik adalah:

  1. Saling mengasaihi, dapat ditunjukkan misalnya dengan:

  • selalu mau membantu
  • rela berkorban tanpa pamrih
  • tahu bertenggang rasa dll.

  1. Saling Mempercayai, misalnya:

  • saling membuka diri menceritakan suka duka hidup
  • memberi pujian dan kritik kepada sahabt dengan jujur
  • dapat menjaga rahasia sahabat

  1. Saling Menghormati, misalnya:

  • menerima sahabat apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya
  • mau mendengar keluh kesah sahabat
  • mau mendengar tindakan dan ucapan sahabat sebagi sesuatu yang penting 

Dalam persahabatan kita dapat saling menerima dan memberi diri sehingga kita dapat sama-sama belajar, tumbuh dan berkembang secara lahir dan bathin.

Bersahabat merupakan pendalaman dari proses perjumpaan,perkenalan, dan pertemanan dengan orang lain. Persahabatan itu tidak eksklusif dan sebagai cerminan dari keluasan wawasan hidup seseorang. Persahabatan itu tidak sekali jadi, melainkan tumbuh dalam proses yang berjalan. Kita bisa saja mempunyai banyak teman tetapi sedikit sahabat. Menjadi sahabat adalah soal kehendakdan pilihan sikap untuk terus membangun relasi dalam kejujuran. 

Syarat membangun Persahabatan adalah: Kejujuran diri dalam berkomunikasi

  • Kejujuran dalam arti ini adalah: menerima, melaksanakan, memperlihatkan dan melindungi kebenaran.
  • Menerima berarti: mengakui kebenaran, entah itu datang dari mana ataupun   dari siapa yang mengatakannya.
  • Melaksanakan berarti: bertindak dan bersikap sesuai dengan kebenaran dan  kenyataan serta melindungi dari yang tidak berhak.

Norma yang dipakai adalah Cinta Kasih yang Bijaksana. 

Dalam ajaran Gereja, selalu menunjukkan dan mengajarkan bagaimana menjadi orang Katolik yang setia pada sahabat seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci, terdapat contoh yang mengisahkan tentang “Persahabatan Sejati”yaitu:

Persahabatan Daud dan Yonathan (1 Samuel 18: 1-4, 20: 1-43) yaitu:

  • Yonathan adalah putera Raja Saul, ia bersahabat dengan Daud, tetapi Raja Saul  tidak suka pada Daud karena iri pada kemampuan Daud
  • Raja Saul berniat membunuh Daud, tetapi Yonathan tetap menjalin persahabatan dengan Daun dan menyelamatkan Daud dari ancaman ayahnya.
  • Kisah tersebut menunjukkan segi pandangan Kristiani bahwa:
  1. Persahabatan mengandalkan kejujuran
  2. Dalam persahabatan perlu keterbukaan untuk saling membangun
  3. Persahabatan didasari kebenaran yang tidak dapat dikalahkan oleh ikatan apapun (baik ikatan darah, ikatan fungsional maupun ikatan apapun)
  • Sikap Yonathan patut dipuji, karena ia tidak merasa persahabatannya dengan Daud harus hancur walaupaun antara sahabat dan ayahnya kurang baik hubungannya.
  • Persahabatan tidak dapat dicampuradukkan dengan urusan keluarga, Yonathan berusaha jujur dengan Daud sahabatnya dengan mengatakan apa adanya tentang ayahnya agar sahabatnya selamat, termasuk menceritakan bagaimana sikap Raja Saul.
  • Walaupun Yonathan adalah putra Mahkota, tetapi ia tidak takut kedudukannya digeser oleh Daud dan semua yang dilakukan Yonathan untuk menyelamatkan Daud dilakukan tanpa pamrih.

 

Menurut Yesus, persahabatan sejati terletak pada:

  •      Cinta yang rela berkorban (bahkan korban nyawa sekalipun)
  • .      Rela memaafkan
  • .      Kebersamaan dalam rahasia hidup dan perjuangan

Yesus adalah contoh tokoh sahabat yang paling agung, karena Ia mengajarkan kepada kita tentang hakekat dan makna dari persahabatan sejati. 

Sikap yang sering dapat menghancurkan Persahabatan antara lain:

  • Egois atau mencari keuntungan sendiri
  • Munafik atau sikap pura-pura (lain dimulut lain dihati dan yang dilakukan)
  • Ketidakjujuran,
  • Tidak setia dll

Persahabatan yang baik akan menumbuhkan sikap:

  • Cinta kasih
  • Keterbukaan
  • Kejujuran
  • Rela berkorban tanpa pamrih
  • Saling memahami
  • Setia
  • Tidak mencari keuntungan sendiri. 

Persahabatan yang sejati adalah persahabat yang sungguh-sungguh berorientasi pada orang yang dikasihinya. Orientasi ini memampukan dirinya untuk:

  • Berbuat tanpa pamrih
  • Berani meninggalkan dirinya sendiri demi sahabat yang tidak hanya bersama kala suka tetapi hadir terutama saat duka menimpa
  • Berani berkorban segalanya demi sahabat. 

Menurut Yesus, persahabatan sejati terletak pada:

  •          Cinta yang rela berkorban (bahkan korban nyawa sekalipun)
  •         Rela memaafkan
  •          Kebersamaan dalam rahasia hidup dan perjuangan

Yesus adalah contoh tokoh sahabat yang paling agung, karena Ia mengajarkan kepada kita tentang hakekat dan makna dari persahabatan sejati. 

Persahabatan Sejati dapat terjadi apabila ada:

  •         Kehendak baik
  •         Cinta
  •         Kejujuran
  •         Sikap terbuka
  •         Solidaritas/Setia kawan
  •          Rela berkorban
  •          Siap mendengarkan
  •         Empati

Dengan sikap-sikap tsb diatas, kita bertumbuh sebagi pribadi yang integratif dan dewasa serta saling memperbaiki dan tidak ada istilah yang satu memperalat yang lain.

Model tokoh sahabat sejati adalah: Yesus Kristus sendiri, karena:

  • .      Ia begitu setia dan perhatian terhadap kita
  • .      Ia mati-matian membela kita sahabatNya
  • .      Segala sesuatu disingkapNya bagi kita sahabatNya

Hal tersebut secara jelas dan tegas diungkapkan Yesus dalam injil Yohanes 15:13-15 

G.    BERPACARAN 

Seiring dengan perkembangannya, seorang remaja akan memasuki relasi sosial yang semakin luas. Awalnya lebih senang bergaul atau membentuk kelompok dengan teman yang sejenis, lama kelamaan akan mulai merasa perlu untuk menjalin relasi dengan teman lawan jenisnya.

Bahkan untuk menarik perhatian lawan jenisnya, remaja mencoba untuk menampilhan diri sebaik mungkin, misalnya:

  •         Menjaga tutur katanya
  •         Menjaga penampilan dan image diri
  •          Berupaya  mempercantik diri  dan menampilkan diri sebaik mungkin agar lawan jenis tertarik
  •         Berusaha merawat diri dan menjaga penampilan
  •         Mulai mencari perhatian dengan lawan jenis yang disukai dgn bermacam cara dll

Selain itu, ditemukan juga dampak negatif perubahan prilaku sebagi dampak dari ketertarikan terhadap lawan jenis yaitu:

  •          Konsentrasi belajar menurun
  •          Berbohong dalam hal keuangan dengan orang tua untuk menyenangkan pacar
  •          Mencari-cari alasan agar dapat pergi dengan pacarnya.

Gejala dan dampak negatif dari rasa ketertarikan dengan lawan jenis tsb perlu diantisipasi baik oleh guru dan orang tua supaya mendapat pendampingan yang memadai agar para remaja yang mulai memiliki rasa tertarik dengan lawan jenis tidak salah jalan 

Petemanan yang mendalam dan khusus dengan lawan jenis, pada akhirnya akan terjalinlah hubungan khusus yang disebut dengan “PACARAN”. 

Berpacaran dapat diterima secara wajar karena hal itu merupakan perkembangan dari persahabatan sejati oleh dua orang yang berlainan jenis.

Pacaran yang sehat tidak hanya tertarik untuk menyenangkan diri, namun menuntut perlakuan yang hormat dan suci terhadap pacar. 

Remaja SMP perlu memahami secara benar tentang masalah pacaran yang baik, sehingga dampak negatif dari pacaran itu tidak terjadi, tetapi malah sebaliknya mereka menjadi mampu menempatkan diri dengan baik dalam menjalin relasi dengan teman terlebih lawan jenis 

Tema “Pacaran” sering dikaitkan dengan cinta atau orang yag sedang “kasmaran” alias jatuh cinta. Pengalaman ini merupkan peristiwa yang menyenangkan, membahagiakan dan membuat orang bingung mabuk kepayang.

Pacaran terjadi jika tahap pertemuan, perkenalan dan pertemanan telah dilalui dalam proses perjumpaan untuk menjadi sahabat. 

Hubungan antara Cinta dengan Pacaran

  •       Cinta merupakan daya yang mendorong seserang untuk membangun kebersamaaan atau hidup bersama yang lebih baik dengan orang yang disayangi
  •         Dengan cinta seseorang ingin memberikan sesuatu dari dirinya sendiri kepada orang lain serta ada dorongan untuk membahagiakan orang lain
  •          Cinta itu memperkembangkan dan mengisi hidup manusia
  •       Tidak ada kebahagiaan yang begitu diharapkan sedemokian rupa cinta dan tidak ada penderitaan yang begitu mendalam daripada seseorang yang ditolak cintanya
  •          Cinta membuat hidup lebih hidup
  •         Orang yang tidak pernah dicintai oleh orang lain misalnya oleh keluarga, teman dan selalu tersingkir, orang tsb akan mengalami hidup yang merana, kering & sepi
  •       Walaupun gagah, kaya raya dan pandai, kalau cintanya ditolak oleh sang kekasih, ia akan merasa kehilangan segala-galanya dan putus asa

Dari hal-hal tsb diatas jelasalah bahwa manusia membutuhkan cinta, membutuhkan dimengerti dan diterima seluruh hidupnya, setidaknya oleh satu orang yang diharapkan. 

Pacaran adalah: adanya daya tarik dengan lawan jenis yang mengarah kepada kepada hubungan yang khusus. 

Allah menciptakan pria dan wanita, serupa tapi tidk sama, justru perbedaan itulah pria dan wanita saling tertarik. Mereka saling membutuhkan untuk saling melengkapi dan membahagiakan serta saling mencintai. 

Rasa tertarik kepada lawan jenis merupakan bagian dari proses pertumbuhan remaja menuju kedewasaan. Setiap orang akan atau pernah mengalaminya. Rasa tertarik itu sendiri bahkan oleh diberikan Allah sendiri. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan agar saling tertarik dan dengan demikian mereka dapat saling membantu memperkembangkan satu terhadap yang lain. 

Rasa tertarik atas lawan jenis itu perlu kita tata atau kelola serta kita kendalikan secara bertanggung jawab. Itulah sebabnya, kita mengenal adanya tahap-tahap ketertarikan seseorang terhadap lawan jenisnya.

Adapun tahap-tahap ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sebagai berikut:

1.      Tahap pergaulan biasa

Pada tahap ini pria dan wanita dapat bergaul denga sesamanya secara sehat bebas dan bertanggung jawab. Biasanya perasaan yang muncul terhadap lawan jenis berjalan dengan wajar tanpa ada perasaan apapun.

2.      Tahap pergaulan khusus

Pada tahap ini pergaulan sudah mengarah kepada seseorang/lawan jenis secara akrab dan terbatas. Biasanya remaja selain bergaul dengan siapa saja, mulai ada diantaranya yang tertarik secara khusus kepada lawan jenis dan mulai bersahabat  secara khusus atau naksir, tahap ini biasa disebut juga Masa pacaran

3.      Tahap pertunangan

Pada tahap ini pria dan wanita telah mengikat janji sebagai persiapan akhir menjelang perkawinan. Setelah dewasa biasanya rasa ketertarikan atau pacaran itu biasanya akan lebih diarahkan menuju jenjang perkawinan. 

Berpacaran merupakan hak setiap orang, tetapi setiap orang perlu secara bijaksana menentukan kapan ia akan mulai berpacaran. Sebab berpacaran yang tidak terarah dan tidak pada tujuannya dapat mendatangkan bencana yang merugikan, tidak hanya diri kita sendiri atau sang pacar, melainkan juga keluarga, bahkan masyarakat. 

Masa pacaran bertujuan untuk:

·         Saling mengenal satu sama lain

·         Mengenal kepribadiannya

·         Tahu kebiasaan baik dan buruknya

·         Mengenal latar belakang latar belakang keluarganya

·         Tahu latar belakang keluarga, sosial ekonomi, pendidikannya dll

Dengan mengenal pacar secara sungguh-sungguh, diharapkan kelak bila sampai menikah mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia, yang tidak banyak mengalami masalah atau konflik dalam kehidupan rimah tangga mereka.

 

Kitab suci memberikan inspirasi kepada kita dalam menghayati tahap-tahap pergaulan dengan lawan jenis seperti yang terungkap dalam Injil Lukas 14: 28-34 yaitu:

·         Agar mampu menyelesaikan suatu pekerjaan, seseorang harus memiliki persiapan cukup, seperti halnya seseorang yang akan mendirikan suatu menara.

·         Dalam mengikuti Yesus ada tuntutan khusus misalnya:

Ø   adanya persiapan

Ø   adanya kesediaan untuk lepas dari berbagai keterikatan atau kepentingan diri sendiri

Ø   adanya kesediaan untuk mendengarkan

Ø   adanya kesediaan untuk mengikuti ajaranNya dll

·      Setiap pengikut Yesus juga diharapkan dapat mewujudkan tuntutan tsb dalam hidup sehari-hari, termasuk ketika memasuki masa pacaran

·       Masa pacaran perlu dilalui secara bertanggug jawab. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa bersatu dengan Allah, agar Allah sendiri membimbing hubungan kita dengan sang pacar. 

Adapun kriteria pacaran yang sehat adalah:

  •         Dilakukan dalam rangka memilih hidup berkeluarga
  •          Dasarnya adalah cinta kasih bukan hanya hal-hal yng sifatnya biologis semata
  •         Waspada terhadap kemungkinan pelecehan seksual, pelanggaran asusila dan akibatnya dll

Beberapa Nasehat Kitab Suci soal Pacaran

·      Jagalah hatimu, Kitab Suci mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati dalam memberikan/menyampaikan kasih sayang kita, karena hati mempengaruhi segala sesuatu dalam hidup kita (Amsal 4:23)

·     Kamu akan menjadi seperti teman-temanmu bergaul. Kita juga cenderung menjadi seperti teman-teman sepergaulan kita. Prinsip ini berhubungan erat dengan menjaga hati yang sama pentingnya dalam pergaulan seperti hubungan dalam pacara (1 Korintus 15:33)

·     Dalam pacaran harus mengikuti standar moral Alkitab. Pacaran yang benar harus didasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada dalam Kristus, seperti yang terungkap dalam Roma 12:12, Yeremia 29;11 dan Amsal 23:18. 

Gereja tidak pernah memaksa umatnya untuk harus menjalani proses pacaran atau pertunangan tertentu, tetapi yang diharapkan adalah agar proses itu dilalui terserah bagaimana caranya yang penting sesuai dengan norma, nilai aturan serta adat istiadat setempat dan dihayati dalam semangat iman serta terang Kristiani.

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI KELAS VII: BAB 2: AKU DICIPTAKAN SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

 

BAB 2

AKU DICIPTAKAN SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN 

Tak ada seorangpun tercipta atas kemauannya sendiri, tetapi yang  paling utama karena memang Tuhan menciptakan dan menghendaki kita terlahir sebagi perempuan atau laki-laki, karena Dialah yang mencitakanNya. Yang perlu dipikirkan adalah apa maksud panggilan Tuhan menciptakan kita sebagai perempuan atau laki-laki.

Kita diajak untuk merasa bangga menjadi perempuan atau laki-laki, dan hidup sesuai dengan panggilannya agar dapat memuliakan allah yang menciptakannya, 

A.    AKU BANGGA SEBAGAI PEREMPUAN ATAU LAKI-LAKI 

Manusia adalah makhluk berjenis kelamin artinya: setiap orang selalu berjenis kelamin pria atau wanita. Karena badan/jasmani dan jiwa/rohani merupakan kesatuan, maka seksualitas pria dan wanita sangat mempengaruhi seluruh kemanusiaannya. 

Umumnya, remaja mempunyai kebanggaan terhadap keberadaan dirinya baik sebagai perempuan atau laki-laki. Tetapi kebangaan tersebut seringkali disertai sikap terlalu membanggakan diri yang mengakibatkan tumbuhnya pandangan negative tentang lawan jenis seperti:

·    Remaja laki-laki memandang perempuan itu: cengeng, lemah, bawel, cerewet, suka merajuk, suka gossip dll

·     Sebaliknya remaja perempuan sering memandangbahwa laki-laki: kasar, keras, sok tahu, mau menang sendiri, egois, sok jago dll

Kebangaan yang terlalu berlebihan terhadap keberadaan dirinya, seringkali menutup diri mereka khususnya remaja baik laki-laki atau perempuan untuk mampu melihat hal-hal yang baik dan indah pada lawan Jenisnya. 

Sebaliknya ada juga sebagian kecil remaja yang merasa menyesal dilahirkan sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Rasa penyesalan itu biasanya muncul dalam berbagai ungkapan seperti:

·         Mengeluh terus menerus

·         Berupaya mengubah penampilan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki

·      Senang berdandan atau melakukan kegiatan yang sebaliknya misalnya anak perempuan selalu ingin memakai celana panjang seperti laki-laki dalam berbagai kesempatan, melakukan kegiatan yg cendrung dilakukan anak laki-laki atau sebaliknya yang laki-laki senang berhias, berlenggak lengggok seperti anak perempuan dll

·    Menyalahkan diri sendiri atau orang lain, bahkan menyalahkan orangtuanya atau lingkungan masyarakatnya

·         Ingin melakukan operasi kelamin dll

Bila hal tersebut terjadi, maka sulit baginya utk mensyukuri hidup  sbg anugerah Tuhan.           

B.    PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI SEDERAJAT 

Dalam kebudayaan tertentu dimasyarakat kita, masih banyak ditemukan pandangan yang mengaggap laki-laki lebih berharga dibandingkan dengan  perempuan, contoh:

·            Anak laki-laki dinggap andalan masa depan karena ia dianggap merupakan  tulang punggung                 keluarga.

·            Laki-laki dianggap mempunyai kepribadian yang kuat dan dapat mengusai banyak hal, sebaliknya           anak perempuan sebagai pribadi yang lemah dan kurang mampu menjadi pemimoin dalam                        keluarga

·            Dalam banyak hal anak laki-laki sering mendapat kesempatan lebih banyak untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan perempuan kurang mendapatkan kesempatan yang sama 

Hal inilah yang dusebut dengan “ Budaya Patriarkhi” yaitu budaya yang memandang kedudukan kaum laki-laki lebih penting dan lebih diperhitungkan daripada kedudukan kaun perempuan. 

Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi dimana kaum perempuan menjadi warga masyarakat kelas dua dalam tatanan masyarakat. Pada masa itu, kaum perempuan Yahudi banyak mendapat perlakuan tidak adil, sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Suci, dimana kedudukan kaum perempuan menjadi kaum kelas dua dalam tatanan masyarakat. Maka tidak mengherankan jika banyak perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan pada zaman itu, contoh :

·         Yohanes 8: 2-11, Perempuan yang tertangkap basah sedang berbuat dosa dihakimi secara sepihak oleh orang banyak tanpa melihat bahwa kaum laki-laki juga turut ambil bagian dalam dosa tersebut

·         1 Kor 14: 26-40 dan 1 Tim 2: 11-14, Peraturan-peraturan yang diterapkan dalam pertemuan-pertemuan jemaat menunjukan betapa kaum perempuan terpinggirakan dan kurang diberi tempat .

 

Walaupun dikalangan Bangsa Yahudi terjadi demikian, Yesus sangat menghargai dan membela kaum perempuan seperti contoh yang terdapat dalam Kitab Suci yaitu:

·         Yoh 8: 2-11, Yesus memperlakukan perempuan yang kedapatana berbuat zinah itu dengan manusiawi

·         Mat 15: 21-28, Yesus memuji seorang perempuan Kanaan yang percaya

·         Yesus meberikan contoh seorang janda miskin yang memberikan sumbangan di Bait Allah sebagai teladan dalam kejujuran dihadapan Allah.

·         Yesus selalu berjuang agar tercipta suatu masyarakat dimana laki-laki dan perempuan sederajat/setara.

 

Sikap dan tindakan Yesus itu tampaknya dilandasi oleh pemahamanNya bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama dimata Allah karena Allah sendiri telah menciptakan mereka sebagai Citra Allah yang saling membutuhkan, karena saling membutuhkan itulah, makanya tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah diantara mereka. 

Dalam Kejadian 2: 5-7, 18-25, ditegaskan bahwa pria dan wanita adalah Ciptaan Allah yang sederajatdan saling melengkapi, karena baik pria maupun wanita memiliki sifat-sifat biologis maupun psikologis yang khas. 

Perbedaan antara pria dan wanita merupaka keindahan ciptaan yang keduanya, saling membutuhkan untuk mewujudkan karya keselamatan Allah  yaitu Karya Penciptaan. 

Adapun wanita memiliki kelebihan tersendiri, dimana kelebihan tersebut juga dibutuhkan pria dala melaksanakan tugas membangun dan mengisi dunia yaitu:

·         Ketelitian

·         Kelembutan

·         Kehalusan

·         Kesabaran

·         Kerapiha

·         Ketekunan dll 

Sebaliknya kelebihan yang umumnya dimiliki pria yang juga dibutuhkan wanita dalam membangun dan mengisi dunia ini yaitu:

·         Keberanian

·         Kekuatan

·         Ketegasan

·         Ketegaran

·         Keuletan

·         Ketangkasan dll 

Kelemahan fisik pada wanita, bukanlah tanda bahwa wanita lebih rendah daripada pria dan sebaliknya, kehalusan sikap wanita bukanlah tanda keunggulan wanita dibanding pria. 

Perbedaan antara pria dan wanita merupakan sifat dasar kepriaan dan kewanita yang khas dan diperlukan didalam kebersamaan hidup yang saling melengkapi dan saling membutuhkan. 

Dalam Kej 2: 20-22, baik pria maupun wanitamaupun wanita menerima tugas perutusannya untuk memelihara dunia dan mengembangkannya sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya yang ada pada pria maupun wanita. 

Tuhan menghendaki manusia, baik pria maupun wanita untk bersatu, saling menghargai, membantu dan saling melingkapi karena pria dan wanita diciptakan sederajat 

C.    MENGEMBANGKAN DIRI SEBAGAI PEREMPUAN ATAU LAKI-LAKI 

Perbedaan laki-laki dan perempuan paling mudah dikenali melalui hal-hal yang sifatnya fisik atau biologis, terutama melalui perbedaan organ kelamin, tetapi juga  dari kepribadian yang umumnya dimiliki masing-masing orang dalam wujud sikap, kebiasaan atua karakter.

Laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki keindahan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. 

Manusia diciptakan Allah sebagai Pria dan Wanita. Kepriaan dan kewanitaan manusia adalah kehendak Allah, hal ini berarti bahwa kepriaan dan kewanitaan adalah sesuatu yang luhur, baik dan indah ( Kejadian 1: 24-28) 

Antara kepriaan dan kewanitaan terdapat kesamaan & perbedaan baik secara psikologis, biologis, social maupun spiritual. Perbedaan maupun persamaan tersebut adalah tanda bahwa kehidupan pria & wanita saling melengkapi yang mengarah pada kesatuan hidup sebagai manusia. 

Pertumbuhan dan perkembangan kepriaan & kewanitaan mengarah pada fungsinya masing-masing yaitu:

  • Kepriaan mengarahkan fungsinya kepada seorang ayah
  • Kewanitaan mengarah pada fungsinya sebagai Ibu

Kepriaan dan kemanitaan sama halnya fungsinya dengan seorang ayah dan ibu yang sederajat dan saling melengkapi dalam kesatuan membentuk keluarga manusia. 

Berdasarkan Kejadian 2: 18-25, Manusia pria dan wanita menjadi suami dan istri, menjadi ayah dan ibu. Untuk tugas itulah mereka dilengkapi Jasmani dan Rohani, baik Psikologis (sifat dan bakat) maupun Biologis (susunan dan alat/organ tubuh yang sesuai dengan tugas panggilan hidup itu) 

Tugas pria adalah:

·   membangun dan menguasai dunia, membongkar dan merenovasi untuk menciptakan sesuatu yang baru.

·   Sebagai Kepala Keluarga, pria bekerja diluar rumah untuk mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya dll

Tugas dan panggilan wanita adalah:

  • Memelihara apa yang sudah dibangun oleh pria
  • Merawat apa yang sudah diciptakan,melindungi dan menyayangi yang lemah
  • Perhatian wanita lebih tertuju pada pribadi sesame manusia
  • Memperindah kehidupan bersama agar lebih menyenangkan, halus, sabar dan tabah 

Pria membangun rumah tetapi wanitalah yang membuat rumah itu menjadi tempat dimana anggota keluarga menjadi “betah”, Ibu adalah jantung hati keluarga. Untuk tugas itulah manusia baik pria maupun wanita, perlu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. 

Perbedaan menyeluruh pria dan wanita ada maksudnya seperti yang difirmankan allah yaitu:       “ Tuhan berfirman, tidak baik, kalau manusia seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia. Allah menciptakan manusia menurut CitraNya, menurut Citra Allah diciptakannya dia. Ia mencitkan mereka pria dan wanita ( Kej 2:18 dan Kej 1:27)

Pria dan wanita diciptakan Allah untuk menjadi penolong yang sepadan, saling melengkapi dan saling membahagiakan satu sama lain (psikologis) dan mempertahankan jenisnya (biologis). Pria dan wanita berbeda tapi saling melengkapi. 

Sejak awal mula Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Masing-masing dilengkapi dengan kebaikan dan keindahannya. Dan semuanya itu baik adanya. Allah memberkati dan mengasihi keduanya. Hal itu menandakan bahwa laki-laki maupun perempuan begitu berharga dimata Allah dan keberadaan laki-laki atau perempuan sangat berarti. 

Hidup sebagai perempuan atau laki-laki merupakan anugerah Allah. Kita patut bersyukur karena Allah mempunyai maksud khusus dengan menciptakan kita sebagai laki-laki atau perempuan. 

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi dan mengembangkan satu terhadap yang lain. Dengan kata lain laki-laki dan perempuan bersifat “ komplementer” yaitu:

  • Mereka saling membutuhkan
  • Mereka saling tegantung satu terhadap yang lain
  • Laki-laki tidak dapat hidup tampa perempuan dan sebaliknya perempuan tidak dapat hidup tanpa laki-laki.

Setiap laki-laki atau perempuan dipanggil untuk mengembangkan dirinya sebagai laki-laki dan perempuan menuju kesempurnaannya sebagaimana dikehendaki Allah. 

Adapun beberapa Kutipan Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Suci berkaitan dengan panggilan Allah untuk mengembangkan diri menjadi perempuan dan laki-laki adalah:

  • Katekismus Gereja Katolik Art 2335 : Manusia entah laki-laki atau perempuan harus mampu memancarkan citra (gambaran dari) kekuatan dan cita kasih Allah yang lemah lembut
  • Katekismus Gereja Katolik Art 2342-2345 : salah satu usaha memampukan diri sebagai pancaran kekuatan kasih Allah, makakita diajak menjaga kesucian diri, baik sebagi perempuan maupun laki-laki.
  • 1 Kor 6: 13-20, Santo Paulus menyatakan bahwa tubuh kita dalah bait Roh Kudus. Tubuh kita merupakan sarana kehadiran Allah, sekaligus sarana kita mewujudkan kehendak Allah. 

Gambaran Allah yang kita imani adalah adalah Allah yang kuat kuasa. Kekuatan Allah itutak akan tergoyahkan oleh kekuatan apapun juga. Kekuatan Allah bukan kekuatan untuk menindas dan menguasai melainkan untuk melayani, mengasihi, membahagiakan dan meyelamatkan. Gambaran Allah yang kita imani juga dalah Allah yang Mahakasih. Kasihnya lemah lembut, penuh pengampunan dan tanpa batas. Allah menyatakan kasihNya yang lemah lembutserta tanpa batas itu dengan rela menyerahkan anakNyasendiri menjadi korban tebusan bagi manusia sampai wafat di Kayu Salib

 

 

 



 



 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

Materi Agama Katolik

SANTO AMBROSIUS, USKUP DAN PUJANGGA GEREJA

Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja Tanggal Pesta: 7 Desember Ambrosius lahir pada tahun 334 di Trier, Jerman dari sebuah keluarga Kr...