1. Sejarah singkat Perpecaha
Gereja
A.
Gereja Lutheran
Keadaan gereja pada
abad XVI sangat jelek.Gereja terlibat dalam banyak urusan duniawi.Paus menjadi sangat
berkuasa dan memegang supremasi, baik dalam urusan gereja maupun
kenegaraan.Sementara itu, terjadi juga pemilihan paus yang tidak pantas seperti
Paus Alexander VI dan Leo IX.Sering terjadi kasus korupsi dan komersialisasi
jabatan Gereja.Banyak pejabat gereja menjadi pangeran duniawi dan melalaikan
tugas rohani mereka, sehingga imam-imam paroki tidak terdidik, hidup dengan
istri gelap, seringkali bodoh, tidak mampu berkotbah, dan tidak mampu mengajar
umat.Keadaan semacam ini terjadi dalam kurun waktu yang lama.Teologi skolastik
menjadi mandul dan masalah dogmatis dianggap sebagai perdebatan tentang hal
sepele antara aneka aliran teologis.Banyak persoalan teologi mengambang dan
tidak pasti.Banyak kebiasaan dalam umat belum seragam. Iman bercampur takhyul,
kesalehan berbaur dengan kepentingan
duniawi. Agam sering merupakan rutin sosial sehari-hari, yang profan dan yang
suci bercampur aduk.
Dalam situasi seperti itu,
banyak orang yang bermaksud untuk memperbaharui hidup Gereja, namun tidak
ditanggapi.Kemudian, tampilah Marthin Luther.Luther mula-mula menyerang masalah
penjualan indulgensi. Kemudian, ia membela beberapa pandangan baru, khususnya
ajaran tentang “pembenaran hanya karena iman” (sola fide). Luther menyerang
wewenang paus dan menolak beberapa ajaran teologi sebelumnya dengan bertumpu
hanya pada Alkitab sesuai dengan tafsiran sendiri.
Luther semula pasti tidak
menginginkan perpecahan.Ia ingin memelopori pembaharuan. Tetapi ia terseret
oleh arus yang disebabkan oleh rasa tidak puas yang umum dalam umat yang
mendambakan pembaharuan yang bentknya kurang jelas.Ajaran-ajaran para teolog
yang mendukung perbuatan-perbuatan saleh, kini diragukan Luther. Indulgensi,
stipendia untuk misa arwah, sumbangan
untuk membangun Gereja bersama dengan patung-patung yang menghiasinya, pajak
untuk roma, ziarah dan puasa, relikui dan kaul-kaul, semua tidak ditemukan
dalam Kitab Suci, maka ditolak oleh Luther.Luther menegaskan : semuanya itu
tidak bermanfaat utnuk memperoleh keselamatan. Yang perlu hanya satu: beriman (sola
fide).Orang yang percaya dibenarkan Allah tanpa mengindahkan perbuatan baik
manusia (soal gratia). Lalu dengan sendirinya orang yang dibenarkan itu akan
berbuat baik dengan bebas dan tenang, bukan karena cemas akan keselamatannya.Jadi,
rasa lega membuat orang tertarik kepada kotbah Luther yang disebarluaskan di
seluruh Jerman.
Sola fide –fides ex audition-
“hanya iman, dan iman karena mendengar” itu sudah cukup untuk menjamin
keselamatan.maka, tujuh sakramen tidak penting lagi, selibat tidak berguna, hidup
membiara tidak berarti.Semuanya ini “buatan paus” saja untuk mengejar kuasa dan
untung. Maka, imam,biarawan, dan suster berbondong-bondong meninggalkan biara
mereka masing-masing.
Luther didukung oleh banyak
kelompok dengan alas an berbeda-beda, misalnya para bangsawan yang mengingini
milik biara, warga kota yang mendambakan kebebasan berpikir, para petani yang
ingin lepas dari kerja rodi dan pajak, para nasionalis yang membenci privilege
Roma, para humanis yang ingin membuang kungkungan teologi skolastik,
pemerintahan kota-kota kerajaan yang mencium kesempatan memperluas wewenang
mereka di kota. Maka, Luther tampil sebagai pahlawan pembebasan.Ia disambut
dengan antusias. Orang mengira akhirnya pembaharuan sungguh-sungguh dimulai
juga. Mula-mula Roma kurang menyadari apa yang terjadi, kemudian bereaksi
salah, sehingga tidak mampu mengarahkannya lagi.
Banyak hal baru dimulai, namun tidak jarang merupakan perusakan yang alam saja.Bukan reformasi Gereja yang lama.Tetapi, orang sudah menunggu terlalu lama.Mereka tidak sabar lagi.Maka, ekskomunikasi Luther oleh paus (1520) dan pengucilan oleh kaisar (1523) tidak dapat membendung gerakan ini lagi.Romatidak memahami reksi dahsyat di Jerman ini dan masih lama bertindak seperti pada abad-abad sebelumnya.Luther juga mulai menyerang umat yang setia kepada paus.Tuntutannya semakin radikal. Persatuan Geeja tidak dapat dicari lagi, bahkan diboikot.Para bangsawan yang mendukungnya tidak tertarik pada persatuan kembali, karena antara lain milik gerejani yang mereka rampas tidak mau mereka kembalikan. Unsur keagamaan, politis, dan pribadi di kedua belah pihak menyulitkan persatuan kembali.Reformasi selesai; uamt terpecah-belah ke dalam kelompok katolik, Lutheran, kalvinis, anglikan dan sebagainya.
B.
Gereja Kalvinis
Tokoh reformasi lain
adalah Yohanes calvin (1509-1564). Tokoh ini tidak jauh berbeda dengan
Luther.Ia ingin membaharui Gereja dalam terang Injil. Calvin dalam bukunya yang
berjudul”Institutio Christianae Religionis”menggambarkan gereja dalam dua
dimensi, yakni Gereja sebagai persekutuan orang-orang terpilih sejak awal dunia
yang hanya dikenal oleh allah dan gereja sebagai kumpulan mereka yang dalam
keterbatasannya di dunia mengaku diri sebagai pengikut Kristus dengan ciri-ciri
pewartaan Injil danpelayanan sakramen-sakramen.Pengaturan Gereja ditentukan
oleh struktur empat jabatan, yakni pastor,pengajar, daikon, dan penatua.
C.
Gereja Anglikan
Anglikantisme
bermulapada pemerintahan Henry VII 1509 – 1547.Di Inggris raja Henry VII
menobatkan dirinya sebagai kepela gereja karena Paus di Roma menolak
perceraiannya. Anglikantisme menyerappengaruh reformasi,namun mempertahankan
beberapa corak gereja (Uskup – Imam – Diakon), sehingga berkembang dengan warna
yang khas.
D.
Gereja Katolik
Reaksi dari Gereja
Katolik Roma atas gerakan reformasi ini
adalah “Kontra – Reformasi” atau
“ gereja Pembeharauan Katolik”. Gerakan pembaharauan ini dimulai dengan
menyel;enggarakan Konsili Trente (1545 – 1563), Gereja Katolik berusaha untuk
menyingkirkan kesesatan-kesesatan dalam gereja dan menjaga kemurnian Injil”.
Konsili juga menegaskan posisi Katolik dalam hal-hal yang disangkal oleh pihak
reformasi (Soal Kitab Suci dan Tradisi, Penafsiran Kitab Suci, Pembenaran,
jumlah sakramen-sakramen, kurban misa, imamat dan tahbisan, pembedaan imam dan
awam serta lain-lainnya).
Konsisi Trente dan sesuadahnya menekankan Gereja sebagai penjaga iman yang benar dan utuh, ditandai dengan sakramen-sakramen.Khususnya eklaristi yang dimengerti serta dirayakan sebagai kurban sejati. Gereja bercorak hirarkis yang dilengkapi dengan jabatan-jabatan gerejani dan imamat yang berwewenang khusus dalam hal merayakan ekaristi, melayani pengakuan dosa; Gereja adalah kelihatan dan ini menjadi jelas dalam lembaga kepausan sebagai puncaknya; gereja mewujudkan diri sebagai persekutuan para kudus lewat penghormatan pada mereka (para kudus); Gereja menghormati tradisi.
2. CIRI-CIRI PROTESTANTISME
DAN PERBEDAANNYA DENGAN GEREJA KATOLIK
a. Gereja diadakan oleh rahmat
Tuhan, oleh pilihan, sabda, sakramen, dan anugerah iman. Gereja yang benar ini
tidak kelihatan dan tidak identic dengan Gereja-gereja yang kita ketahui
anggota dan susunannya .
b. Kita suci adalah satu-satunya
sumber ajaran dan susunan gereja. Maka, sola scriptura (diselamatkan karena Kitab
suci) adalah prinsip formal protestantisme. Alkitab menerangkan sendiri artinya
kepada setiap orang yang membacanya, sehiingga Gereja tidak berwenang memberi
tafsiran otentik
c. Pembenaran dari semuala sampai
selelsai semata-mata rahmat ilahi (sola Gratia). Tuhan menyatakan orang beriman
benar bukan karena ia benar, melainkan karena kebebnaran yang lain, yaitu
kebenaran Kristus yang dikenakan padanya. Perbuatan baik manusia adalah buah
rahmat ilahi semata-mata, tetapi tidak berarti untuk memperoleh pembenaran.
Maka, keselamatan diharapakan hanya dari sabda ilahi saja.
d. Sabda Ilahi adalah satu-satunya
sarana rahmat yang dapat berbentuk Alkitab, Kotbah, sakramen, dan pembicaraan
rohani.
e. Imamat umum semua orang beriman saja yang diakui, sehingga pendeta dan orang awam hanya berbeda menurut fungsi saja tanpa perbedaan rohani secara eksistensial.
3. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
ANTARA KATOLISISME DAN PROTESTANTISME
Persamaan anatara
gereja Katolik dan gereja Protestan jelas sangat banyak dan menyangkut hal-hal
yang sangat fundamental, karena berasal dari yesus Kristus yang diakui oleh
keduanya sebagai dasar Gereja. Keduanya mengakui Allah yang sama, para nabi,
Kitab suci, dan syahadat yang sama.
Perbedaanya;
|
KATOLIK |
PROTESTAN |
|
Tekanan
ada pada sakramen dan pada segi sakramen (tanda kelihatan) dari karya
keselamatan Allah |
Tekanan
pada sabda/pewartaan dan pada segi misteri karya Allah |
|
Kultis,
yang mementingkan kurban (Ekaristi) Hubungan dengan Gereja menentukan
hubungan dengan Kristus |
Profetis,
yang berpusat pada sabda (pewartaan). Hubungan dengan Kristus menenetukan
hubungan dengan Gereja |
|
Gereja
secara hakiki bersifat hirarkis |
Segtala
pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia |
|
Kitab
Suci dibaca dan dipahami di bawah
pimpinan hirarki |
Setiap
orang membaca dan mengartikan Kitab Suci |
|
Jumlah
Kitab Suci 73, termasuk Deuterokanonika yaitu: 1, 2 Makabe, sirakh,
Kebijaksanaan, Tobit, Yudith dan Baruk |
Jumalah
Kitab Suci 66, tidak termasuk Deuterokanonika |
|
Ada
7 sakramen |
Ada
2 sakramen, yaitu sakramen Baptis dan Ekaristi/Perjamuan |
|
Ada
devosi kepada para Kudus |
Tidak
menerima devosi kepada para kudus |
4. USAHA UNTUK BERDIALOG DAN KERJA
SAMA ANTAR-SESAMA GEREJA KRISTUS
*Gerakan ekumenis ialah: kegaiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi dalam rangka mendukung kesatuan umat Kristen, misalnya:
- Upaya untuk menghindari kata-kata, penilaian-penilaian, dan tindakan-tindakan yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yang terpisah, dank arena itu mempersukar hubungan-hubungan dengan mereka.
- Melaksanakan dialog, terutama dialog kehidupan, dialog karya.
- Menyelenggarakan kerja sama demi kesejahteraan umum.
- Doa bersama atau ibadat bersama sejauh memungkinkan dapat dilaksanakan sebagai puncak dari suatu kegiatan yang bersifat ekumenis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar