05 Maret 2021

MATERI KELAS XII: DIALOG GEREJA KRISTEN KATOLIK DAN GEREJA KRISTEN PROTESTAN

 

1.       Sejarah singkat Perpecaha Gereja

A.      Gereja Lutheran

Keadaan gereja pada abad XVI sangat jelek.Gereja terlibat dalam banyak urusan duniawi.Paus menjadi sangat berkuasa dan memegang supremasi, baik dalam urusan gereja maupun kenegaraan.Sementara itu, terjadi juga pemilihan paus yang tidak pantas seperti Paus Alexander VI dan Leo IX.Sering terjadi kasus korupsi dan komersialisasi jabatan Gereja.Banyak pejabat gereja menjadi pangeran duniawi dan melalaikan tugas rohani mereka, sehingga imam-imam paroki tidak terdidik, hidup dengan istri gelap, seringkali bodoh, tidak mampu berkotbah, dan tidak mampu mengajar umat.Keadaan semacam ini terjadi dalam kurun waktu yang lama.Teologi skolastik menjadi mandul dan masalah dogmatis dianggap sebagai perdebatan tentang hal sepele antara aneka aliran teologis.Banyak persoalan teologi mengambang dan tidak pasti.Banyak kebiasaan dalam umat belum seragam. Iman bercampur takhyul, kesalehan berbaur dengan  kepentingan duniawi. Agam sering merupakan rutin sosial sehari-hari, yang profan dan yang suci bercampur aduk.

Dalam situasi seperti itu, banyak orang yang bermaksud untuk memperbaharui hidup Gereja, namun tidak ditanggapi.Kemudian, tampilah Marthin Luther.Luther mula-mula menyerang masalah penjualan indulgensi. Kemudian, ia membela beberapa pandangan baru, khususnya ajaran tentang “pembenaran hanya karena iman” (sola fide). Luther menyerang wewenang paus dan menolak beberapa ajaran teologi sebelumnya dengan bertumpu hanya pada Alkitab sesuai dengan tafsiran sendiri.

Luther semula pasti tidak menginginkan perpecahan.Ia ingin memelopori pembaharuan. Tetapi ia terseret oleh arus yang disebabkan oleh rasa tidak puas yang umum dalam umat yang mendambakan pembaharuan yang bentknya kurang jelas.Ajaran-ajaran para teolog yang mendukung perbuatan-perbuatan saleh, kini diragukan Luther. Indulgensi, stipendia  untuk misa arwah, sumbangan untuk membangun Gereja bersama dengan patung-patung yang menghiasinya, pajak untuk roma, ziarah dan puasa, relikui dan kaul-kaul, semua tidak ditemukan dalam Kitab Suci, maka ditolak oleh Luther.Luther menegaskan : semuanya itu tidak bermanfaat utnuk memperoleh keselamatan. Yang perlu hanya satu: beriman (sola fide).Orang yang percaya dibenarkan Allah tanpa mengindahkan perbuatan baik manusia (soal gratia). Lalu dengan sendirinya orang yang dibenarkan itu akan berbuat baik dengan bebas dan tenang, bukan karena cemas akan keselamatannya.Jadi, rasa lega membuat orang tertarik kepada kotbah Luther yang disebarluaskan di seluruh Jerman.

Sola fide –fides ex audition- “hanya iman, dan iman karena mendengar” itu sudah cukup untuk menjamin keselamatan.maka, tujuh sakramen tidak penting lagi, selibat tidak berguna, hidup membiara tidak berarti.Semuanya ini “buatan paus” saja untuk mengejar kuasa dan untung. Maka, imam,biarawan, dan suster berbondong-bondong meninggalkan biara mereka masing-masing.

Luther didukung oleh banyak kelompok dengan alas an berbeda-beda, misalnya para bangsawan yang mengingini milik biara, warga kota yang mendambakan kebebasan berpikir, para petani yang ingin lepas dari kerja rodi dan pajak, para nasionalis yang membenci privilege Roma, para humanis yang ingin membuang kungkungan teologi skolastik, pemerintahan kota-kota kerajaan yang mencium kesempatan memperluas wewenang mereka di kota. Maka, Luther tampil sebagai pahlawan pembebasan.Ia disambut dengan antusias. Orang mengira akhirnya pembaharuan sungguh-sungguh dimulai juga. Mula-mula Roma kurang menyadari apa yang terjadi, kemudian bereaksi salah, sehingga tidak mampu mengarahkannya lagi.

Banyak hal baru dimulai, namun tidak jarang merupakan perusakan yang alam saja.Bukan reformasi Gereja yang lama.Tetapi, orang sudah menunggu terlalu lama.Mereka tidak sabar lagi.Maka, ekskomunikasi Luther oleh paus (1520) dan pengucilan oleh kaisar (1523) tidak dapat membendung gerakan ini lagi.Romatidak memahami reksi dahsyat di Jerman ini dan masih lama bertindak seperti pada abad-abad sebelumnya.Luther juga mulai menyerang umat yang setia kepada paus.Tuntutannya semakin radikal. Persatuan Geeja tidak dapat dicari lagi, bahkan diboikot.Para bangsawan yang mendukungnya tidak tertarik pada persatuan kembali, karena antara lain milik gerejani yang mereka rampas tidak mau mereka kembalikan. Unsur keagamaan, politis, dan pribadi di kedua belah pihak menyulitkan persatuan kembali.Reformasi selesai; uamt terpecah-belah ke dalam kelompok katolik, Lutheran, kalvinis, anglikan dan sebagainya. 

B.      Gereja Kalvinis

Tokoh reformasi lain adalah Yohanes calvin (1509-1564). Tokoh ini tidak jauh berbeda dengan Luther.Ia ingin membaharui Gereja dalam terang Injil. Calvin dalam bukunya yang berjudul”Institutio Christianae Religionis”menggambarkan gereja dalam dua dimensi, yakni Gereja sebagai persekutuan orang-orang terpilih sejak awal dunia yang hanya dikenal oleh allah dan gereja sebagai kumpulan mereka yang dalam keterbatasannya di dunia mengaku diri sebagai pengikut Kristus dengan ciri-ciri pewartaan Injil danpelayanan sakramen-sakramen.Pengaturan Gereja ditentukan oleh struktur empat jabatan, yakni pastor,pengajar, daikon, dan penatua.

C.      Gereja Anglikan

Anglikantisme bermulapada pemerintahan Henry VII 1509 – 1547.Di Inggris raja Henry VII menobatkan dirinya sebagai kepela gereja karena Paus di Roma menolak perceraiannya. Anglikantisme menyerappengaruh reformasi,namun mempertahankan beberapa corak gereja (Uskup – Imam – Diakon), sehingga berkembang dengan warna yang khas.

D.      Gereja Katolik

Reaksi dari Gereja Katolik Roma atas gerakan reformasi ini  adalah “Kontra – Reformasi”  atau “ gereja Pembeharauan Katolik”. Gerakan pembaharauan ini dimulai dengan menyel;enggarakan Konsili Trente (1545 – 1563), Gereja Katolik berusaha untuk menyingkirkan kesesatan-kesesatan dalam gereja dan menjaga kemurnian Injil”. Konsili juga menegaskan posisi Katolik dalam hal-hal yang disangkal oleh pihak reformasi (Soal Kitab Suci dan Tradisi, Penafsiran Kitab Suci, Pembenaran, jumlah sakramen-sakramen, kurban misa, imamat dan tahbisan, pembedaan imam dan awam serta lain-lainnya).

Konsisi Trente dan sesuadahnya menekankan Gereja sebagai penjaga iman yang benar dan utuh, ditandai dengan sakramen-sakramen.Khususnya eklaristi yang dimengerti serta dirayakan sebagai kurban sejati. Gereja bercorak hirarkis yang dilengkapi dengan jabatan-jabatan gerejani dan imamat yang berwewenang khusus dalam hal merayakan ekaristi, melayani pengakuan dosa; Gereja adalah kelihatan dan ini menjadi jelas dalam lembaga kepausan sebagai puncaknya; gereja mewujudkan diri sebagai  persekutuan para kudus lewat penghormatan pada mereka (para kudus); Gereja menghormati tradisi. 

2. CIRI-CIRI PROTESTANTISME DAN PERBEDAANNYA DENGAN GEREJA KATOLIK

a.    Gereja diadakan oleh rahmat Tuhan, oleh pilihan, sabda, sakramen, dan anugerah iman. Gereja yang benar ini tidak kelihatan dan tidak identic dengan Gereja-gereja yang kita ketahui anggota dan susunannya .

b.   Kita suci adalah satu-satunya sumber ajaran dan susunan gereja. Maka, sola scriptura (diselamatkan karena Kitab suci) adalah prinsip formal protestantisme. Alkitab menerangkan sendiri artinya kepada setiap orang yang membacanya, sehiingga Gereja tidak berwenang memberi tafsiran otentik

c.     Pembenaran dari semuala sampai selelsai semata-mata rahmat ilahi (sola Gratia). Tuhan menyatakan orang beriman benar bukan karena ia benar, melainkan karena kebebnaran yang lain, yaitu kebenaran Kristus yang dikenakan padanya. Perbuatan baik manusia adalah buah rahmat ilahi semata-mata, tetapi tidak berarti untuk memperoleh pembenaran. Maka, keselamatan diharapakan hanya dari sabda ilahi saja.

d.  Sabda Ilahi adalah satu-satunya sarana rahmat yang dapat berbentuk Alkitab, Kotbah, sakramen, dan pembicaraan rohani.

e.     Imamat umum semua orang beriman saja yang diakui, sehingga pendeta dan orang awam hanya berbeda menurut fungsi saja tanpa perbedaan rohani secara eksistensial. 

3. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA KATOLISISME DAN PROTESTANTISME

Persamaan anatara gereja Katolik dan gereja Protestan jelas sangat banyak dan menyangkut hal-hal yang sangat fundamental, karena berasal dari yesus Kristus yang diakui oleh keduanya sebagai dasar Gereja. Keduanya mengakui Allah yang sama, para nabi, Kitab suci, dan syahadat yang sama.

Perbedaanya;

KATOLIK

PROTESTAN

Tekanan ada pada sakramen dan pada segi sakramen (tanda kelihatan) dari karya keselamatan Allah

Tekanan pada sabda/pewartaan dan pada segi misteri karya Allah

Kultis, yang mementingkan kurban (Ekaristi) Hubungan dengan Gereja menentukan hubungan dengan Kristus

Profetis, yang berpusat pada sabda (pewartaan). Hubungan dengan Kristus menenetukan hubungan dengan Gereja

Gereja secara hakiki bersifat hirarkis

Segtala pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia

Kitab Suci  dibaca dan dipahami di bawah pimpinan hirarki

Setiap orang membaca dan mengartikan Kitab Suci

Jumlah Kitab Suci 73, termasuk Deuterokanonika yaitu: 1, 2 Makabe, sirakh, Kebijaksanaan, Tobit, Yudith dan Baruk

Jumalah Kitab Suci 66, tidak termasuk Deuterokanonika

Ada 7 sakramen

Ada 2 sakramen, yaitu sakramen Baptis dan Ekaristi/Perjamuan

Ada devosi kepada para Kudus

Tidak menerima devosi kepada para kudus

 

4. USAHA UNTUK BERDIALOG DAN KERJA SAMA ANTAR-SESAMA GEREJA KRISTUS

*Gerakan ekumenis ialah: kegaiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi dalam rangka mendukung kesatuan umat Kristen, misalnya:

  • Upaya untuk menghindari kata-kata, penilaian-penilaian, dan tindakan-tindakan yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yang terpisah, dank arena itu mempersukar hubungan-hubungan dengan mereka.
  • Melaksanakan dialog, terutama dialog kehidupan, dialog karya.
  • Menyelenggarakan kerja sama demi kesejahteraan umum.
  • Doa bersama atau ibadat bersama sejauh memungkinkan dapat dilaksanakan sebagai puncak dari suatu kegiatan yang bersifat ekumenis.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Materi Agama Katolik

SANTO AMBROSIUS, USKUP DAN PUJANGGA GEREJA

Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja Tanggal Pesta: 7 Desember Ambrosius lahir pada tahun 334 di Trier, Jerman dari sebuah keluarga Kr...