17 Maret 2022

MATERI AGAMA KATOLIK KELAS XI: GEREJA YANG MEWARTAKAN (KERYGMA)

  GEREJA YANG MEWARTAKAN (KERYGMA)

Bacaan Injil : Perintah Untuk Memberitakan Injil  (Matius 28: 16 – 20) 

TUGAS MEWARTAKAN 

Dalam diri Yesus dari Nazareth, Sabda Alla tampak secara konkret dan manusiawi. Penampakan  itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan sabda Allah. Akan tetapi, oleh karena sabda itu sudah  menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk  mempertahankan hasilnya bagi semua orang, sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain yang di  dalamnya sabda dapat hadir dan berbicara. 

Ada tiga bentuk sabda Allah dalam Gereja, yaitu:

  1. Sabda/pewartaan para rasul sebagai daya yang membangun Gereja 
  2. Sabda Allah dalam Kitab Suci sebagai kesaksian normatif, dan 
  3. Sabda Allah dala pewartaan aktual gereja sepanjang zaman

Dua pola pewartaan: 

Dalam mewartakan sabda Allah, kita dapat mewartakannya secara verbal melalui kata-kata  (kerygma), tetapi juga dengan tindakan (martyria). 

a. Pewartaan Verbal(kerygma) 

Pewartaan verbal pada dasarnya merupakan tugas herarki, tetapi para awam diharapkan  untuk berpartisipasi dalam tugas ini, misalnya sebagai katekis, guru agama, fasilitator  pendalaman kitab suci, dsb. 

Bentuk-bentuk pewartaan masa kini, antara lain sebagai  berikut: 

1.     Kotbah:pewartaan tematis 

2.     Homili: pewartaan yang berdasarkan suatu perikop Kitab Suci. Keduanya merupakan  pewartaan dari mimbar 

3.     Pelajaran Agama: proses pergumulan hidup nyata dalam terang iman 

4.   Katekese umat: kegiatan suatu kelompok umat, di mana mereka aktif  berkomunikasi untuk menafsirkan hidupnyata dalam terang Injil, yang diharapkan  berkelanjutan dengan aksi nyata, sehingga dapat membawa perubahan dalam  masyarakat kearah yang lebih baik. 

5.  Pendalaman Kitab Suci: Pendalaman Kitab suci dapat dilakukan dalam keluarga,  kelompok, atau pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pada masa  Prapaskah(APP), masa Adven, dan pada bulan Kitab Suci (September).

 

b. Pewartaan dalam bentuk kesaksian (martyria) 

Pewartaan dalam bentuk kesaksian ini pada dasarnya lebih dipercayakan kepada para  awam. Setiap umat Kristiani dalam hidupnya diharapkan dapat menjadi garam dan terang  dalam masyarakat. 

2. Dua Tuntutan dalam pewartaan 

Tugas pewartaan adalah mengaktualisasikan sabda Tuhan yang disampaikan dalam Kristus  sebagaimana diwartakan oleh para Rasul. Usaha mengaktualisasi sabda Tuhan itu mengandaikan  berbagai tuntutan yang harus dipenuhi.

Tuntutan-tuntutan tersebut antara lain sebagai berikut.

a. Mendalami dan menghayati sabda Tuhan 

Pengenalan dan penghayatan yang diwartakan adalah sabda Allah. Orang tidak dapat  mewartakan sabda Allah dengan baik, jika ia sendiri tidak mengenal dan menghayatinya.

b. Mengenal umat/masyarakat konteksnya. 

Pengenalan latar belakang dari orang-orang yang kepadanya sabda Allah akan disampaikan  tentu sangat penting. Kita harus mengenal jiwa dan budaya mereka. 

MAGISTERIUM DAN PARA PEWARTA SABDA 

1. Magisterium atau wewenang mengajar. 

Magisterium adalah kuasa mengajar dalam Gereja. Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas  kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja, sebab pimpinan Gereja inilah yang  disebut magisterium. Namun,”wewenang mengajar”, tidak berarti bahwa dalampewartaan  hanya hierarki yang aktif, sedangkan yang lain tinggal menerima dengan pasif. Dalam  pewartaan, hierarki bertugas menjaga kesatuan iman dan ajaran. Menjaga kesatuan iman dan  ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Herarki adalah pengajar otentik (yang  mengemban kewibawaan Kristus) tentang perkara iman dan kesusilaan; mereka memaklumkan  ajaran Kristus tanpa dapat sesat. 

 

Ada empat 4 syarat yang harus dipenuhi, yakni: 

  1.        Ajaran harus menyangkut iman dan kesusilaan 
  2.            Ajaran harus bersifat ajarn otentik, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawan
  3.        Kristus  Ajaran dinyatakan dengan tegas dan definitif (tidak dapat diganggu gugat)
  4.        Ajaran itu disepakati bersama (sejauh hal ini menyangkut pernayataan para uskup  sebagai dewan)  

2. Para pewarta 

1.      Menjadi pewarta merupaka suatu panggilan. Oleh karena itu, seorang pewarta harus:

2.      Mekat dengan yang diwartakannya 

3.      Menjadi senasib dengan yang diwartakannya 

4.      Berani menanggung derita seperti yang diwartakannnya 

5.      Siap untuk diutus dan ‘diserahkan’ kepada umat yang mendengar pewartaannya

6.     Memiliki komitmen yang utuh kepada umat.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Materi Agama Katolik

SANTO AMBROSIUS, USKUP DAN PUJANGGA GEREJA

Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja Tanggal Pesta: 7 Desember Ambrosius lahir pada tahun 334 di Trier, Jerman dari sebuah keluarga Kr...