Betapa bahagianya
orang yang hidup dalam suasana kehidupan yang penuh dengan persaudaraan. Hidup
dalam persaudaraan adalah hidup dalam semangat kasih. Kasih itu tidak
membeda-bedakan, tulus, rela berkorban, dan kasih itu mau terlibat.
Bagi umat Katolik,
pengertian persaudaraan bukanlah dalam arti sempit yaitu relasinya dengan sesama
umat Kristiani dalam satu paroki atau mereka yang sudah dibaptis sehingga
menjadi anak-anak Allah dan menjadi saudara.
Dalam konteks
persaudaran Kristen, Kristus mengatakan : “… barang siapa mengasihi Allah, ia
harus mengasihi saudaranya” (1 Yoh 4:21). Perkataan Kristus tersebut perlu
dimaknai dalam konteks universal, artinya tidak terbatas pada iman yang sama
atau agama yang sama. Sehingga bagi umat Kristen, segala tingkat kehormatan
harus tunduk pada persamaan dasar: “Kamu satu sama lain adalah saudara!”
Tuhan Yesus bersabda
dalam Injil Matius 5:46-48: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,
apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?Dan apabila kamu
hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada
perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat
demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga
adalah sempurna.”
Jika kita menghayati
dan mewujudnyatakan apa yang telah difirmankan Tuhan, maka kehidupan
persaudaraan yang penuh dengan keindahan akan dapat kita wujudkan pula. Itulah
keindahan kebersamaan dalam hidup yang dapat kita usahakan.
Keindahan dalam hidup
kebersamaan tidak akan datang begitu saja, namun perlu untuk kita usahakan.
Berbagai bentuk kebersamaan yang indah dapat kita lihat dalam kehidupan
kebersamaan yang dibangun oleh masyarakat kita antara lain:
1) Di lingkungan RT/RW tertentu ada kebiasaan silaturahmi dimana setiap hari
raya Natal para warga yang muslim dan beragama lain secara perorangan atau
kelompok berkunjung ke rumah warga yang beragama Katolik atau Kristen.
Sebaliknya, pada hari raya Idul Fitri, seluruh warga berkumpul di perempatan RT
tersebut untuk bersama-sama bersilaturahmi dan saling mengucapkan selamat baik
oleh warga muslim maupun non muslim. Juga ada kegiatan saling berkunjung pada
saat Idul Fitri;
2) Di beberapa Gereja Katolik, ada warga muslim yang tergabung dalam ormas
(organisasi kemasyarakatan) tertentu yang selalu membantu menjaga keamanan
dalam perayaan malam Natal atau malam Paskah;
3) Ketika terjadi bencana banjir, banyak sekolah Katolik yang memberikan
fasilitas sekolahnya sebagai tempat untuk mengungsi dengan tanpa membedakan
agama dan suku, tetapi bersama-sama mereka membangun kebersamaan dan hidup
saling membantu.
Pengalaman-pengalaman
indah itu hendaknya makin banyak dilakukan dan makin menyebar sehingga pastilah
dunia ini akan tersenyum, terlebih Allah akan merasa bangga terhadap manusia
ciptaan-Nya.
Sebagai pelajar, dapat
juga mengusahakan kebersamaan yang indah itu dengan ikut terlibat di dalam
berbagai kegiatan kebersamaan seperti itu. Secara lebih nyata lagi dapat
dilakukan dengan membangun persahabatan dengan semua teman tanpa membedakan.
Gereja, melalui
dokumen “Unitatis Redintegratio Art.2” ada bagian yang menekankan pentingnya
dialog antarumat beragama agar tercipta kehidupan kebersamaan yang indah;
“….maka Gereja mendorong para putranya, supaya dengan bijaksana dan penuh
kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil
memberi kesaksian tentang iman serta perihidup Kristiani, mengakui, memelihara
dan mengembangkan harta kekayaan rohani moral serta nilai-nilai sosio budaya,
yang terdapat pada mereka.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar