17 Maret 2022

KISI-KISI AGAMA KATOLIK UJIAN SEKOLAH SMP


KISI-KISI SOAL UJIAN SEKOLAH TINGKAT SMP

MATA PELAJARAN: PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI

KURIKULUM: 2013

 

No.

Kompetensi yang Diuji

Materi

Indikator Soal

Bentuk Soal

Nomor Soal

1

Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan tentang:

·         manusia sebagai citra Allah

·         aku memiliki kemampuan

·         aku bangga sebagai perempuan atau laki-laki

Manusia sebagai citra Allah

Peserta didik mampu menjelaskan ciri manusia sebagai citra Allah.

PG

1

Aku memiliki kemampuan

Disajikan kutipan teks Mat 25:14-30 tentang talenta, peserta didik mampu menjelaskan tanggapan para tokoh seperti terungkap dalam teks tersebut

PG

2

Aku memiliki kemampuan

Peserta didik mampu menentukan cara mengembangkan kemampuan

PG

3

Aku bangga sebagai perempuan atau laki-laki

Peserta didik mampu menentukan kekhasan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki

PG

4

 

Peserta didik mampu mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman tentang:

·         tugas manusia sebagai citra Allah

·         bersyukur sebagai citra Allah

·         mengembangkan diri sebagai perempuan dan laki-laki

·         peran keluarga, sekolah Gereja dan masyarakat bagi perkembanganku

·         berteman, bersahabat dan berpacaran bagi perkembangan diri

Tugas sebagai citra Allah

Peserta didik mampu memberi contoh tugas manusia sebagai citra Allah dalam hidup sehari-hari.

PG

5

bersyukur sebagai citra Allah

Peserta didik mampu memberikan contoh perwujudan syukur sebagai citra Allah

PG

6

mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki

Peserta didik mampu membedakan ciri-ciri yang dimiliki perempuan atau laki-laki

PG

7

mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki

Peserta didik mampu memberi contoh cara mengembangkan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki

PG

8

Peran keluarga bagi perkembanganku

Disajikan kutipan sumber Iman Gereja Katolik tentang peran keluarga, peserta didik mampu menemukan contoh kewajiban orangtua dalam mendidik anak-anak sesuai dengan kutipan tersebut

PG

9

Peran sekolah bagi perkembanganku

Disajikan kutipan dokumen Gereja tentang pendidikan Kristen (Gravissimum Educationis art. 5), peserta didik mampu memberikan contoh cara mengembangkan potensi yang dimiliki berdasarkan kutipan tersebut

PG

10

Bersahabat

Disajikan kutipan teks Kitab Sir. 6:5-17, peserta didik mampu menginterpretasi makna persahabatan berdasarkan teks tersebut.

PG

11

 

Peserta didik mampu menggunakan nalar dalam mengkaji tentang:

·         kesederajatan perempuan dan laki-laki

·         kemampuan yang terbatas

Perempuan dan laki-laki dicipta-kan sederajat

Disajikan data tentang kesederajatan perempuan dan laki-laki, peserta didik mampu menganalisis data yang menunjukkan kesederajatan.

 

PG

12

Disajikan kutipan teks Kitab Suci tentang kesederajatan perempuan dan laki-laki, peserta didik mampu menyimpulkan makna kesederajatan perempuan dan laki-laki berdasarkan teks tersebut.

 

PG

13

Kemampuan yang terbatas

Disajikan kutipan teks Kitab Suci tentang keterbatasan murid-murid Yesus, peserta didik mampu menganalisis keterbatasan diri sesuai teks di atas.

PG

14

Sengsara dan wafat Yesus

Disajikan teks Kitab Suci tentang sengsara Yesus, peserta didik mampu menjelaskan sikap Yesus dalam menghadapi sengsara-Nya.

 

PG

16

 

Peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman tentang:

·         Meneladan Yesus dalam kehidupan sehari-hari

Yesus Sang Pendoa

Disajikan contoh teks doa, peserta didik mampu menunjukkan unsur doa tersebut.

PG

17

Yesus yang berbelas kasih

Disajikan gambar tentang orang yang melakukan tindakan berbelas kasih terhadap sesama, peserta didik mampu menunjukkan contoh tindakan berbelas kasih dalam hidup sehari-hari seperti terdapat dalam gambar.

PG

18

Yesus Sang Pengampun

Disajikan kutipan teks Kitab Suci tentang pengampunan, peserta didik mampu menerapkan sikap pengampunan dalam hidup sehari-hari sesuai dengan kutipan teks tersebut.

PG

19

 

Peserta didik mampu menggunakan nalar dalam mengkaji:

·         tugas dan perutusan sebagai murid Yesus

Tugas perutusan sebagai murid Yesus

Disajikan kutipan teks Luk. 10:1-12 tentang Yesus mengutus tujuh puluh murid, peserta didik mampu merumuskan perwujudan tugas perutusan sebagai murid Yesus dalam kehidupan sehari-hari.

PG

20

 

Peserta didik dapat memahami dan menjelaskan tentang:

·         Gereja sebagai paguyuban orang beriman

·         ciri Gereja sebagai paguyuban

·         pelayanan Gereja sebagai paguyuban

Gereja sebagai paguyuban

Peserta didik mampu menguraikan unsur-unsur anggota dalam persekutuan Gereja.

PG

21

Ciri Gereja sebagai paguyuban

Peserta didik mampu menjelaskan ciri Gereja dalam syahadat para rasul.

PG

22

Pelayanan Gereja sebagai paguyuban

Disajikan gambar tentang keterlibatan seseorang dalam tugas pelayanan Gereja, peserta didik mampu mengidentifikasi bidang tugas pelayanan tersebut.

 

PG

23

 

Peserta didik mampu mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman tentang:

·         Gereja sebagai tanda dan sarana penyelamatan

Tanda dan sarana keselamatan dalam hidup manusia

Disajikan kutipan teks Sumber Iman Gereja Katolik tentang tanda dan sarana keselamatan, peserta didik mampu memberi contoh tindakan yang mencerminkan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan teks tersebut.

PG

24

Gereja sebagai tanda dan  sarana keselamatan

Disajikan gambar atau cerita tentang tanda dan sarana keselamatan dalam hidup sehari-hari, peserta didik mampu menginterpretasikan arti gambar atau cerita sebagai sarana keselamatan.

PG

25

 

Peserta didik mampu menggunakan nalar dalam mengkaji:

·         Sakramen Inisiasi

·         Sakramen tobat

Sakramen Baptis

Disajikan gambar tentang simbol yang ada dalam Sakramen Baptis, peserta didik mampu menganalisis makna simbol dalam gambar tersebut.

PG

26

Sakramen Ekaristi

Peserta didik mampu menginterpretasikan sikap tubuh dalam perayaan Ekaristi.

PG

27

Sakramen Penguatan

Peserta didik mampu menganalisis makna simbol yang ada dalam Sakramen Penguatan.

PG

28

Sakramen tobat

Disajikan cerita tentang pertobatan, peserta didik mampu menyimpulkan makna pertobatan berdasar cerita tersebut.

 

PG

29

 

Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan tentang:

·         orang beriman menanggapi karya keselamatan Allah

Beragama sebagai tanggapan atas karya keselamatan Allah

peserta didik mampu menjelaskan alasan orang beragama.

PG

30

 

 

Hak dan kewajiban sebagai anggota Gereja

Peserta didik mampu memberi contoh perwujudan kewajiban sebagai anggota Gereja.

PG

32

Disajikan kutipan sumber Iman Gereja tentang perwujudan kewajiban sebagai anggota masyarakat, peserta didik mampu menentukan perwujudan kewajiban sesuai teks dalam Kitab Suci tersebut.

PG

33

Mengembangkan budaya kehidupan

peserta didik mampu memberi contoh perwujudan menghargai budaya kehidupan dalam kehidupan sehari-hari

PG

34

Menghargai keadilan dan kejujuran

Peserta didik mampu memberi contoh usaha yang dapat dilakukan untuk memperjuangkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

PG

35

Peserta didik mampu memberi contoh usaha yang dapat dilakukan untuk memperjuangkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

PG

36

Kemajemukan agama dan kepercayaan berbeda tetapi satu tujuan

Peserta didik mampu memberi contoh tindakan menghargai kemajemukan agama dan kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari.

PG

37

Kebersamaan itu indah

 

 

Peserta didik mampu memberikan contoh tindakan membangun kebersamaan dalam hidup sehari-hari.

PG

38

Bersahabat dengan alam

 

 

 

 

Disajikan gambar tentang kerusakan lingkungan, peserta didik mampu memberi contoh dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan manusia.

PG

39

Peserta didik mampu memberikan contoh usaha yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan alam.

 

PG

40

 

Peserta didik mampu menggunakan nalar dalam mengkaji:

·         kemampuan yang terbatas

Kemampuan yang terbatas

Disajikan kasus tentang orang yang mengalami keterbatasan, peserta didik mampu memecahkan masalah yang dihadapi tokoh dalam kisah tersebut.

Essay

41

 

Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan tentang:

·         pribadi Yesus Kristus

 

Yesus Kristus pemenuhan janji Allah

Disajikan teks Kitab Suci tentang Janji Allah kepada manusia, peserta didik mampu menjelaskan tentang Yesus Kristus yang merupakan pemenuhan janji Allah tersebut.

Essay

42

 

Peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman tentang:

·         meneladan Yesus dalam kehidupan sehari-hari

Yesus peduli terhadap penderitaan sesama

Peserta didik mampu memberi contoh tindakan peduli terhadap penderitaan sesama di lingkungan sekitar.

Essay

43

 

Peserta didik mampu menggunakan nalar dalam mengkaji:

·         Sakramen Inisiasi

 

Sakramen Ekaristi

Disajikan kutipan teks Kitab Suci tentang perjamuan malam terakhir, peserta didik mampu merumuskan makna tindakan Yesus yang terdapat dalam teks tersebut.

Essay

44

 

Peserta didik mampu mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman tentang:

·         orang beriman hidup di tengah masyarakat

Hak dan kewajiban orang beriman dalam masyarakat

Peserta didik mampu memberi contoh perwujudan hak umat beriman sebagai anggota masyarakat.

Essay

45

 

  


MATERI AGAMA KATOLIK KELAS XI: GEREJA YANG MELAYANI (DIAKONIA)

 GEREJA YANG MELAYANI (DIAKONIA)

Yesus mengenal struktur masyarakat feudal pada zaman-Nya, yakni adanya kelas-kelas dan tingkat-tingkat dalam masyarakat. Tetapi, Yesus berkata “tidaklah demikian di antara murid-murid-Nya” Mereka harus memiliki sikap yang lain, yakni sikap melayani. Sesudah membasuh kaki murid-murid-Nya pada malam Perjamuan Terakhir, Yesus pernah berkata: “Jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki”. (Yoh 13:13-14). “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. (Mrk 10:45). Iutulah sikap yang diharapkan oleh Kristus terhadap murid-murid-Nya.

Semangat pelyananan itu harus diteruskan di dalam Gereja-Nya. Hal itu ditekankan lagi oleh Konsili Vatikan II. Tugas kegembalaan atau kepemimpinan dalam Gereja adalah tugas pelayanan.

1.    Dasar Pelayanan dalam Gereja.

Dasar pelayanan dalam Gereja adalah semangat pelayanan Kristus sendiri. Barangsiapa menyatakan diri murid, “ia wajib hidup sama seperti hidup Kristus” (1 Yoh 2:6). Yesus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7) tidak ada artinya jika para murid-Nya  mengambil rupa para penguasa. Pelayanan beaerti mengikuti jejak Kristus. Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan. Yesus bersabda: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Lk 17:10)

Pelayanan Kristiani adalah sikap pokok para pengikut Yesus. Dengan kata lain, melayani adalah tanggung jawab setiap orang Kristiani sebagai konsekuen dari imannya. Dengan demikian, orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, tetapi juga bertanggung jawab terhadap orang lain dengan menjadi sesamanya.

2.    Ciri-ciri Pelayanan Gereja.

Ciri pelayanan Gereja dapat disebut antara lain:

 Bersikap sebagai pelayan

Yesus menyuruh para murid-Nya selalu bersikap sebagai “yang paling rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua” (Mrk 9:35). Yesus sendiri memberi teladan dan menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa. Menjadi pelayan adalah sikap iman yang radikal.

Ciri religius pelayanan Gereja ialah menimba kekuatannya dari sari teladan Yesus Kristus.

 Orientasi pelayanan Gereja terutama ditujukan kepada kaum miskin.

Dalam usaha pelayanan kepada kaum miskin janganlah mereka menjadi obyek belas kasihan. Pelayanan bearti kerja sama, di dalamnya semua orang merupakan subyek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan spiritual ataupun sosial, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana adalah juga penting, dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja, namun yang pokok adalah sikap pelayanan itu sendiri.

Kerendahan hati

Dalam pelayanan, Gereja (kita) harus tetap bersikap rendah hati. Gereja tidak boleh berbangga diri, tetapi tetap melihat dirinya sebagai “hamba yang tak berguna” (Lk 17:10)

3.   bentuk-bentuk Pelayanan Gereja

Pelayanan Gereja dapat bersifat ke dalam, tetapi juga ke luar. Pelayanan ke dalam adalah pelayanan untuk membangun jemaat. Pelayanan ini pada dasarnya dipercayakan kepada hierarki, namun awam pun diharapkan berpartisipasi di dalamnya, misalnya dengan melibatkan diri dalam kepengurusan Dewan Keuskupan, Dewan Paroki, Pengurus Wilayah/Lingkungan, dsb.

Pelayanan keluar yang lebih difokuskan adalah pelayanan demi kepentingan masyarakat luas. Bentuk-bentuk pelayanan Gereja Katolik Indonesia untuk masyarakat luas antara lain:

Pelayanan di bidang kebudayaan dan pendidikan

Di bidang budaya, Gereja berusaha melestarikan budaya asli yang bernilai. Di bidang pendidikan, Gereja berupaya membangun sekolah-sekolah untuk pendidikan formal, tetapi juga membangun kursus-kursus ketrampilan yang berguna.

Pelayanan Gereja di bidang kesejahteraan

Di bidang ekonomi, Gereja mendirikan lembaga-lembaga social ekonomi yang memperhatikan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil. Di bidang kesehatan, Gereja mendirikan rumah-rumah sakit dan poliklinik untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Pelayanan Gereja di bidang politik dan hukum

Di bidang politik, Gereja dengan tugas nabiahnya  menyerukan supaya diciptakan situasi politik dan hukum yang berorientasi pada kepentingan rakyat banyak. Gereja mengajak umatnya untuk berpartisipasi dalam politik lewat partai-partai dan oramas yang mengutamakan kepentingan rakyat.



MATERI AGAMA KATOLIK KELAS XI: GEREJA YANG MEMBANGUN PERSEKUTUAN (KOINONIA)

 GEREJA YANG MEMBANGUN PERSEKUTUAN

Gereja bukan sekadar organisasi saja, namun merupakan kumpulan anggota Umat Allah yang hidup bersekutu, bersatu dalam nama Tuhan. Kehidupan Menggereja terbangun dalam semangat kebersamaan berusaha menolong anggotanya yang mengalami kesulitan atau kesusahan karena kita adalah satu kesatuan keluarga Allah (Gereja).

Dalam Kitab Suci, dikatakan; Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Efesus 2:19).

Artinya bahwa kesatuan dan kebersamaan orang-orang percaya di dalam Kristus disebut persekutuan.

Kata yang dipakai untuk persekutuan dalam bahasa Yunani adalah Koinonia yang berasal dari kata dasar koinos yang berarti lazim atau umum. Artinya berkaitan dengan kebersamaan.

Maka koinonia (persekutuan) mempunyai dasar dan tujuan yang berasal dari Yesus Kristus. Dasar dan tujuan ini tidak dapat diganti dengan dasar dan tujuan yang lain. Jikalau persekutuan ini mengganti dasar, yang sudah diletakkan oleh dan di dalam Yesus Kristus maka persekutuan ini kehilangan hakekatnya dan secara azasi bukan persekutuan (koinonia) lagi.

Dengan demikian KOINÔNIA dalam Kristianitas berarti juga persekutuan jemaat Kristus dalam persekutuan Roh Kudus. Kuasa yang nyata dari Roh Kudus yang memimpin, menolong, menasehati, menghibur, membaharui dan mempersatukan warga jemaat.

Koinonia adalah persekutuan jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk satu tubuh Kristus. Di dalam Koinonia ini kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi kita mengabarkan Injil Kerajaan Allah melalui perkataan/ kesaksian (Martyria) maupun perbuatan /pelayanan (Diakonia) dimana saja kita berada.

Gambaran tentang persekutuan umat atau komunitas basis model jemaat perdana (Kis 4:32-37) dapat menjadi model atau cermin bagi kita untuk membangun persekutuan umat atau Komunitas Basis. Model Komunitas Umat perdana itu tidak dimaksudkan hanya untuk kelompok kecil umat saja, tetapi sesungguhnya model hidup (gaya hidup) Jemaat Perdana itu juga merupakan patron dan acuan untuk model atau cara hidup Gereja (umat beriman) sepanjang waktu, partikular maupun universal. Artinya bahwa cara hidup jemat perdana itu juga tetap merupakan cita-cita yang terus-menerus diupayakan, diperjuangkan dan diwujudkan oleh umat beriman sepanjang waktu.

Ciri-ciri utama cara hidup jemaat perdana itu nampak sangat menonjol dalam lima hal yaitu adanya:

  1. Persaudaraan/persekutuan

  2. Mendengarkan Sabda/pengajaran

  3. Pelayanan terhadap sesama/solidaritas

  4. Perayaan iman/pemecahan roti/doa

  5. Memberi kesaksian iman (tentang Tuhan) melalui cara hidup mereka.

Karena cara hidup mereka itu, mereka disukai semua orang, jumlah mereka makin lama makin bertambah dan mereka sangat dihormati orang banyak.

Adapun hal-hal lain yang pada permukaan tampak dalam wujud tindakan sosial dan ekonomi, aksi solidaritas, kepedulian kepada sesama, menolong dan menyembuhkan orang sakit (Kis. 5:16) adalah merupakan buah, hasil atau dampak dari iman mereka kepada Tuhan, merupakan hasil dari upaya meneguhkan dan mewartakan iman mereka sendiri.

Maka komunitas Jemaat Perdana adalah komunitas iman, komunitas spiritual, komunitas yang digerakkan oleh Roh Kudus, komunitas orang-orang yang bertobat (mau berubah), bukan komunitas yang terbentuk pertama-tama karena alasan-alasan (kepentingan) sosial, ekonomi atau kekuasaan. Tatanan duniawi, urusan sosial-ekonomi justru diresapi, dijiwai, digerakkan, oleh/karena iman mereka akan Tuhan itu dan bukan sebaliknya




MATERI AGAMA KATOLIK KELAS XI: GEREJA YANG MEWARTAKAN (KERYGMA)

  GEREJA YANG MEWARTAKAN (KERYGMA)

Bacaan Injil : Perintah Untuk Memberitakan Injil  (Matius 28: 16 – 20) 

TUGAS MEWARTAKAN 

Dalam diri Yesus dari Nazareth, Sabda Alla tampak secara konkret dan manusiawi. Penampakan  itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan sabda Allah. Akan tetapi, oleh karena sabda itu sudah  menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk  mempertahankan hasilnya bagi semua orang, sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain yang di  dalamnya sabda dapat hadir dan berbicara. 

Ada tiga bentuk sabda Allah dalam Gereja, yaitu:

  1. Sabda/pewartaan para rasul sebagai daya yang membangun Gereja 
  2. Sabda Allah dalam Kitab Suci sebagai kesaksian normatif, dan 
  3. Sabda Allah dala pewartaan aktual gereja sepanjang zaman

Dua pola pewartaan: 

Dalam mewartakan sabda Allah, kita dapat mewartakannya secara verbal melalui kata-kata  (kerygma), tetapi juga dengan tindakan (martyria). 

a. Pewartaan Verbal(kerygma) 

Pewartaan verbal pada dasarnya merupakan tugas herarki, tetapi para awam diharapkan  untuk berpartisipasi dalam tugas ini, misalnya sebagai katekis, guru agama, fasilitator  pendalaman kitab suci, dsb. 

Bentuk-bentuk pewartaan masa kini, antara lain sebagai  berikut: 

1.     Kotbah:pewartaan tematis 

2.     Homili: pewartaan yang berdasarkan suatu perikop Kitab Suci. Keduanya merupakan  pewartaan dari mimbar 

3.     Pelajaran Agama: proses pergumulan hidup nyata dalam terang iman 

4.   Katekese umat: kegiatan suatu kelompok umat, di mana mereka aktif  berkomunikasi untuk menafsirkan hidupnyata dalam terang Injil, yang diharapkan  berkelanjutan dengan aksi nyata, sehingga dapat membawa perubahan dalam  masyarakat kearah yang lebih baik. 

5.  Pendalaman Kitab Suci: Pendalaman Kitab suci dapat dilakukan dalam keluarga,  kelompok, atau pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pada masa  Prapaskah(APP), masa Adven, dan pada bulan Kitab Suci (September).

 

b. Pewartaan dalam bentuk kesaksian (martyria) 

Pewartaan dalam bentuk kesaksian ini pada dasarnya lebih dipercayakan kepada para  awam. Setiap umat Kristiani dalam hidupnya diharapkan dapat menjadi garam dan terang  dalam masyarakat. 

2. Dua Tuntutan dalam pewartaan 

Tugas pewartaan adalah mengaktualisasikan sabda Tuhan yang disampaikan dalam Kristus  sebagaimana diwartakan oleh para Rasul. Usaha mengaktualisasi sabda Tuhan itu mengandaikan  berbagai tuntutan yang harus dipenuhi.

Tuntutan-tuntutan tersebut antara lain sebagai berikut.

a. Mendalami dan menghayati sabda Tuhan 

Pengenalan dan penghayatan yang diwartakan adalah sabda Allah. Orang tidak dapat  mewartakan sabda Allah dengan baik, jika ia sendiri tidak mengenal dan menghayatinya.

b. Mengenal umat/masyarakat konteksnya. 

Pengenalan latar belakang dari orang-orang yang kepadanya sabda Allah akan disampaikan  tentu sangat penting. Kita harus mengenal jiwa dan budaya mereka. 

MAGISTERIUM DAN PARA PEWARTA SABDA 

1. Magisterium atau wewenang mengajar. 

Magisterium adalah kuasa mengajar dalam Gereja. Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas  kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja, sebab pimpinan Gereja inilah yang  disebut magisterium. Namun,”wewenang mengajar”, tidak berarti bahwa dalampewartaan  hanya hierarki yang aktif, sedangkan yang lain tinggal menerima dengan pasif. Dalam  pewartaan, hierarki bertugas menjaga kesatuan iman dan ajaran. Menjaga kesatuan iman dan  ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Herarki adalah pengajar otentik (yang  mengemban kewibawaan Kristus) tentang perkara iman dan kesusilaan; mereka memaklumkan  ajaran Kristus tanpa dapat sesat. 

 

Ada empat 4 syarat yang harus dipenuhi, yakni: 

  1.        Ajaran harus menyangkut iman dan kesusilaan 
  2.            Ajaran harus bersifat ajarn otentik, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawan
  3.        Kristus  Ajaran dinyatakan dengan tegas dan definitif (tidak dapat diganggu gugat)
  4.        Ajaran itu disepakati bersama (sejauh hal ini menyangkut pernayataan para uskup  sebagai dewan)  

2. Para pewarta 

1.      Menjadi pewarta merupaka suatu panggilan. Oleh karena itu, seorang pewarta harus:

2.      Mekat dengan yang diwartakannya 

3.      Menjadi senasib dengan yang diwartakannya 

4.      Berani menanggung derita seperti yang diwartakannnya 

5.      Siap untuk diutus dan ‘diserahkan’ kepada umat yang mendengar pewartaannya

6.     Memiliki komitmen yang utuh kepada umat.









MATERI AGAMA KATOLIK KELAS XI: GEREJA YANG MENGUDUSKAN

A. Doa 

1. Arti Doa 

Doa berarti berbicara dengan Tuhan secara pribadi; doa juga merupakan ungkapan iman secara  pribadi dan bersama-sama. Oleh sebab itu, doa-doa Kristiani biasanya berakar dari kehidupan  nyata. Doa selalu merupakan dialog yang bersifat pribadi antara manusia dan Tuhan dalam  hidup nyata. 

Dalam dialog tersebut, kita dituntut untuk lebih mendengar daripada berbicara, sebab  firman Tuhan akan selalu menjadi pedoman yang menyelamatkan. Bagi umat umat Kristiani,  dialog ini terjadi di dalam yesus Kristus, sebab dialah satu-satunya jalan dan perantara kita  dalam komunikasi dengan Allah.  

Singkatnya: 

Doa selalu merupakan bentuk komunikasi antara manusia dan Tuhan 

Komunikasi ini dapat dalam bentuk batin (mediatasi) atau lisan (doa vocal)

Dalam doa-doa itu diungkapkan “kebesaran” (kedaulatan-keabsolutan) Tuhan dan  ketergantungan

manusia pada Tuhan 

Ada macam-macam isi doa, misalnya doa permohonan, doa syukur, doa pujian, dsb. 2.


Fungsi doa :

Mengkomunikasikan diri kita kepada Allah 

Mempersatukan diri kita kepada Tuhan 

Mengungkapkan cinta, kepercayaan, dan harapan kita kepada Tuhan. 

Membuat diri kita melihat dimensi baru dari hidup dan karya kita, sehingga kita melihat  hidup, pedrjuangan dan karya kita dengan mata iman; 

Mengangkat setiap karya kita menjadi karya yang bersifat apostolis atau merasul 3.


Syarat dan cara doa yang baik :

a. Syarat-syarat doa yang baik: 

Didoakan dengan hati 

Berakar dan bertolak dari pengalaman hidup 

Diucapkan dengan rendah hati 

b. Cara-cara berdoa yang baik

Berdoa secara batiniah. “tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamar..’’(mat 6:  5-6) 

Berdoa dengan cara sederhana dan jujur. “Lagi pula dalam doamu janganlah kamu  bertele-tele..” (Mat 6:7) 

B. Doa Resmi Gereja 

Doa kelompok yang resmi itu disebut ibadat atau liturgy. Doa itu doa resmi Gereja. Yang pokok  bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan  demikian, liturgi adalah “karya Kristus, Imam Agung, serta tubuh-Nya, yaitu Gereja”. Oleh karena itu, liturgi tidak hanya merupakan “kegiatan suci yang santat istimewa”, tetapi juga wahana utama untuk  mengantar umat Kristiani ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus (Sacro sanctum Concilum art.7). 

Doa resmi gereja tidajk sama dengan mendaraskan rumus-rumus hafalan doa-doa resmi, melainkan  pertama-tama dan terutama adalah pernayataan iman di hadapan Allah. Doa berarti mengarahkan hati  kepada Tuhan. Yang berdoa adalah hati, bukan badan. Hal itu juga berlaku untuk doa pada umumnya  dan doa pribadi. Tetapi, doa bersama membutuhkan sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan  pengungkapan iman. 

Ibadat resmi Gereja tampak dalam ibadat pagi, ibadat siang, ibadat sore, ibadat malam, dan  ibadat bacaan. Yang pokok dalam doa bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan kesatuan  Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan bentuk yang resmi, doa umat menjadi doa seluruh Gereja,  yang sebagai mempelai Kristus berdoa bersama Sang Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa  pribadi setiap anggota jemaat. Liturgi sungguh-sungguh menjadi doa dalam arti penuh jika semua yang  hadir secara pribadi dapat bertemu dengan tuhan dalam doa bersama itu. 

C.Sakramen-sakramen 

Arti dan makna Sakramen :

  1. Sakramen adalah lambang atau simbol 
  2. Sakramen-sakramen mengungkapakan karya Tuhan yang menyelamatkan
  3. Sakramen-sakramen meningkatkan dan menjamin mutu hidup kita sebagai orang Kristiani

Tujuh Sakramen 

  1. Sakramen Permandian ( tanda Iman)
  2. Sakramen Penguatan (Tanda kedewasaan) 
  3. Sakramen tobat 
  4. Sakramen Ekaristi (tanda kesatuan) 
  5. Sakramen Perminyakan Orang sakit 
  6. Sakramen Pernikahan 
  7. Sakramen Imamat 

Sakramentali dan devosi dalam Gereja. 

1. Sakramentali adalah tanda-tanda suci (berupa ibadat/upacara/pemberkatan) yang mirip dengan  sakramen-sakramen. Berkat tanda-tanda suci ini berbagai buah rohani ditndai dan diperoleh melalui doa-doa permohonan dengan perantaraan Gereja. 

Aneka ragam sakramentali: 

  • Pemberkatan, yakni pemberkatan orang, benda/barang rohani, tempat, makanan, dsb. Contoh: pemberkatan ibu hamil atau anak, alat-alat pertanian, mesin pabrik, alat  transportasi, rumah, patung, Rosario, makanan, dsb. Pemberkatan atas orang atau  benda tersebut adalah pujian kepada Allah dan doa untuk memohon anugerah anugerah-Nya. 
  •   Pemberkatan dalam arti tahbisan rendah, yakni pentahbisan orang dan benda. Contoh:  pentahbisan/pemberkatan lektor, akolit, dan katekis; pemberkatan benda atau tempat  untuk keperluan liturgy, misalnya pemberkatan gereja/kapel. Altar, minyak suci, lonceng  dan sebagainya. 


2. Devosi 

Devosi (latin:devotion=penghormatan) adalah bentuk-bentuk penghormatan/kebaktian khusus  orang atau umat beriman kepada rahasia kehidupan Yesus yang tertentu, misalnya  kesengsaraan-Nya, hati-Nya yang mahakudus, sakramen mahakudus, dsb. Devosi kepada orang orang kudus, misalnya devosi kepada santo-santa pelindung, devosi kepada Bunda Maria  dengan berdoa Rosario atau mengunjungi tempat-tempat ziarah pada bulamn Mei atau oktober, dan sebagainya.




16 Maret 2022

MATERI AGAMA KATOLIK KELAS VIII: GEREJA SEBAGAI PAGUYUBAN

 Gereja sebagai Paguyuban

  • Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menjumpai banyak kelompok atau perkumpulan. Namun demikian tidak semua bentuk kelompok atau perkumpulan dapat disebut sebagai komunio (persekutuan). Suatu kelompok atau perkumpulan akan dikatakan sebuah komunio, jika dalam kelompok atau perkumpulan tersebut, komunikasi dan interaksi berlangsung terus-menerus. Masing-masing saling memperhatikan satu sama lain, saling memiliki, saling memberi, saling mendukung, saling menasihati, saling mengingatkan, saling mengembangkan, saling melayani, dan saling berusaha agar kebersamaan tersebut terus-menerus terjaga keutuhannya demi kebahagiaan bersama.
  • Model orang-orang yang berkumpul untuk membentuk persekutuan (komunio) dapat kita lihat dalam kehidupan para murid Yesus, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci (lih. Kis 2: 41-47). Persekutuan mereka terbentuk berkat pengalaman yang sama yaitu sebagai murid-murid Yesus dan orang-orang yang percaya kepada-Nya, setelah mendengar pewartaan tentang Yesus Kristus.
  • Kehidupan persekutuan mereka sangat menarik dan “berbeda” dibandingkan dengan persekutuan yang ada di sekitar mereka saat itu. Mereka selalu hidup dalam persekutuan dengan bertekun dalam pengajaran para rasul, selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa bersama, segala kepunyaan mereka adalah milik bersama, satu sama lain saling melayani dan berkurban, selalu hidup dengan gembira dan tulus hati, mereka juga saling mengenal, memiliki ikatan batin, memiliki iman yang sama yaitu kepada Yesus Kristus dan menjalankan cara hidup yang sesuai dengan kehendak Kristus.
  • Persekutuan mereka itulah yang sering disebut Gereja Perdana atau Gereja Awal. Mereka adalah cikal bakal Gereja yang hingga kini memiliki berbagai unsur keanggotaan Gereja.
  • Dalam Dokumen Gereja “Lumen Gentium” dikatakan bahwa Orang beriman yang menjawab sabda Allah dan menjadi anggota Tubuh Kristus dipersatukan secara erat dengan Kristus ”Dalam Tubuh itu hidup Kristus dicurahkan ke dalam umat beriman.
  • Melalui sakramen-sakramen mereka itu secara rahasia namun nyata dipersatukan dengan Kristus yang telah menderita dan dimuliakan”(LG Karena semua orang yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Paulus kepada jemaat di Galatia juga menyampaikan hal sehubungan dengan itu. Ia menyatakan bahwa “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus (Galatia 3:27-28).
  • Begitulah dengan Gereja. Sebagai suatu paguyuban, Gereja memiliki banyak anggota tetapi satu tubuh. Kesatuan tubuh tidak menghapus perbedaan anggota dan tugas. Oleh karena itu, bila ada satu anggota yang menderita semua anggota ikut menderita atau bila satu anggota yang dihormati semua anggota ikut bergembira. Walaupun mereka satu tubuh, tetapi di dalam setiap anggota itu memiliki peran dan tugas masing-masing yang saling terkait dan saling mendukung satu dengan yang lain dalam karya pewartaan.
  • Adapun anggota gereja dengan berbagai tugas dan peran masing-masing, antara lain:
    1. Kaum Klerus/ Tahbisan yang terdiri dari episkopat (uskup), presbiterat (imam), dan diakonat (diakon). Tugas utama mereka adalah pelayanan rohani dan menguduskan Gereja melalui perayaan-perayaan sakramen.
    2. Kaum Hidup Bakti/biarawan-biarawati yang terdiri dari tarekat religius dan tarekat sekular. Mereka hidup dengan penghayatan Tri Kaul Suci dan dalam persaudaraan yang tergabung dalam komunitas, tarekat, atau kongregasi tertentu. Mereka membaktikan diri untuk mewartakan kabar gembira dalam pelayanan pendidikan, medis, rumah-rumah retret, dan lain-lain.
    3. Kaum Awam, yang mengemban tugas perutusan dalam Gereja dan dunia sesuai kehendak Allah yakni mengelola tata dunia dengan nilai Kristiani. Di antara kaum awam ada yang menikah dan ada yang tidak menikah (selibat).
  • Untuk melaksanakan tugas sebagai anggota dalam Gereja, baiklah jika masing-masing anggota merasa satu dan menjadi satu bagian dalam anggota Gereja. Gereja akan menjadi semakin hidup dan lebih hidup jika anggota berperan serta secara aktif sesuai dengan tugas dan peran masing-masing.
  • Begini diungkapkan oleh Santo Paulus: Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain (Roma 12:4-5). Demikian pula diungkapkan kembali oleh Santo Paulus dengan mengatakan bahwa Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya (1 Kor 12:27).





Materi Agama Katolik

SANTO AMBROSIUS, USKUP DAN PUJANGGA GEREJA

Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja Tanggal Pesta: 7 Desember Ambrosius lahir pada tahun 334 di Trier, Jerman dari sebuah keluarga Kr...